Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Dikisahkan dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Pasukan Romawi berhasil menangkap dan menawan Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi ra., salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Kemudian terjadilah dialog antara pimpinan Romawi dan Abdullah bin Hudzafah, “Masuklah ke dalam agama Nasrani. Jika engkau menolak, saya akan lemparkan engkau ke dalam kuali,” kata si pemimpin Romawi. “Saya tidak akan melakukannya,” jawab Abdullah.
Kemudian, si pemimpin Romawi menginstruksikan agar disiapkan kuali yang dipenuhi dengan minyak dan dipanaskan hingga mendidih. Ia lalu memanggil salah seorang tawanan muslim dan memaksanya untuk masuk agama Nasrani. Akan tetapi si tawanan muslim menolak dengan tegas. Akhirnya ia pun dilemparkan ke dalam kuali tersebut hingga tulang belulangnya terlihat mengambang.
Pemimpin Romawi itu kembali berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke dalam agama Nasrani. Jika engkau menolak, saya akan melemparkan engkau ke dalam kuali itu.”
“Saya tidak akan melakukannya,” jawab Abdullah. Kemudian si pemimpin Romawi menginstruksikan agar Abdullah bin Hudzafah dilemparkan ke dalam kuali. Pada saat hendak dilemparkan, Abdullah menangis. Para petugas pun berkata, “Dia ketakutan dan menangis.”
Si Pemimpin Romawi berkata, “Angkatlah ia kembali.” Setelah diangkat, Abdullah berkata, “Kalian pikir saya menangis karena takut? Sama sekali bukan. Saya menangis karena saya hanya punya satu jiwa saja. Saya sangat berharap, seandainya saya punya seratus jiwa dan semuanya dibunuh dalam kondisi seperti ini, yaitu ketika berjuang di jalan Allah.”
Pemimpin Romawi pun sangat kagum dan takjub mendengarnya. Ia lalu berkata, “Masuklah ke dalam agama Nasrani. Jika engkau bersedia melakukannya, saya akan menikahkan engkau dengan putriku dan memberimu sebagian dari kekuasaanku.”
“Saya tidak akan sudi melakukannya,” jawab Abdullah. “Jika begitu, cium kepalaku dan saya akan membebaskan delapan puluh tawanan muslim,” kata si pimpinan Romawi.
“Jika itu tawarannya, saya bersedia melakukannya,” jawab Abdullah. Ia lalu mencium kepala pimpinan Romawi tersebut. Pemimpin Romawi itu pun membebaskan Abdullah beserta delapan puluh tawanan muslim.
Setelah itu, mereka pun pulang dan menghadap Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Sebagai bentuk penghargaan, Khalifah Umar pun mencium kepala Abdullah. Sejak saat itu, para sahabat terkadang bercanda dengan Abdullah bin Hudzafah dengan berkata kepadanya, “Engkau pernah mencium kepala ilj (sebutan untuk perwira kafir ajam yang bertubuh besar, kekar, dan kuat).” (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah).
Hikmah
Kisah Abdullah bin Hudzafah mengajarkan dua pelajaran penting kepada kita.
Pertama, keimanan yang kuat tidak akan gentar menghadapi ancaman musuh. Jika kita mau meneladan keimanan yang kuat, pasti akan merujuk kepada Rasulullah saw. dan para sahabat. Iman mereka di atas rata-rata. Ujian yang menghadang dakwah beliau dan perjalanan hidup para sahabat juga lebih sulit dan berat. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita sebagai pengemban dakwah berkeluh kesah atas ujian dakwah dan cobaan hidup yang mendera.
Sebabnya, ujian yang kita terima tidak lebih berat dari ujian para Nabi dan orang-orang sebelum kita. Setiap orang beriman pasti akan diuji. Ini sebagaimana firman Allah Taala, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘Kami telah beriman,‘ dan mereka tidak diuji?” (QS Al Ankabut: 2).
Allah Swt. juga tidak akan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya.” (QS Al Baqarah: 286).
Kedua, perjuangan dakwah pasti memiliki risiko berupa rintangan dan hambatan. Hal tersebut bisa berupa cemoohan, celaan, pengasingan, dan berbagai tuduhan miring untuk menghalangi dakwah Islam. Nabi saw. dan para sahabat sudah melalui itu semua dengan kesabaran dan keyakinan kepada Allah Taala. Demikian pula seharusnya para pengemban dakwah. Apa pun rintangan dan hambatan yang menghadang, berdakwahlah secara konsisten dan istikamah. Sampaikan kebenaran Islam dengan berani dan percaya diri. Bersabarlah hingga perjuangan menegakkan syariat Islam berbuah manis, yaitu kembalinya Khilafah Islamiah sesuai manhaj nubuwwah, seperti yang telah dijanjikan dalam sabda Nabi ﷺ.
Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran yang akan memperkuat cita-cita dan akan mendekatkan ke jalan menuju surga. Hal ini seperti kesabaran Bilal bin Rabah, Khabab, dan keluarga Yasir. Kesabaran seperti para sahabat yang diberkati, juga kesabaran para sahabat yang diboikot, serta yang hijrah ke Habsyah. Begitu pula kesabaran para sahabat yang ditangkap karena berpegang teguh pada perkataan mereka, “Tuhan kami adalah Allah.”
Kesabaran yang hakiki juga harus seperti kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar pada saat memerangi kaum musyrik, bangsa Persia, dan Romawi. Juga seperti kesabaran sahabat yang ditawan, yaitu Abdullah bin Hudzafah dan mujahidin yang berani dan jujur.
Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat melaksankan amar makruf nahi mungkar dan tidak lemah meskipun dihadapkan kepada berbagai penindasan di jalan Allah. Kesabaran yang sebenarnya adalah kesabaran pada saat menjadi tentara bersama pasukan muslim yang siap memerangi musuh-musuh Allah.
Demikianlah pesan mendalam tentang kesabaran yang dipetik dari kitab Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah hlm. 136. Pesan berharga yang ditujukan bagi setiap pengemban dakwah yang berjuang di jalan Allah Taala. [MNews/CJ-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
