Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Abdul Malik bin Quraib al-Ashma’i bercerita bahwa ketika ia bersama Khalifah Harun ar-Rasyid, ada seseorang yang mengadukan kepada khalifah perihal salah satu kadi bernama Afiyah yang pernah ia angkat. Pengaduan tersebut membuat khalifah merasa sangat terbebani. Ia pun memutuskan untuk memanggil sang kadi.
Setelah itu, kadi Afiyah menghadap Khalifah Harun ar-Rasyid dalam satu majelis yang dihadiri banyak orang. Khalifah mulai menginterogasi dan menyidang kadi Afiyah. Khalifah menjelaskan pengaduan yang dilaporkan perihal dirinya. Majelis sidang tersebut berjalan cukup lama.
Di tengah jalannya persidangan, Khalifah Harun ar-Rasyid bersin. Semua orang yang hadir di majelis pun spontan mengucapkan doa orang yang bersin, kecuali kadi Afiyah.
“Mengapa engkau tidak mengucapkan doa untukku ketika aku bersin seperti yang mereka lakukan?” kata khalifah kepada Afiyah.
Afiyah berkata, “Wahai Amirulmukminin, aku tidak berdoa untukmu karena engkau tidak mengucapkan hamdalah ketika bersin tadi. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ada dua orang bersin di dekat Rasulullah ﷺ, lalu beliau hanya mendoakan salah satunya saja. Lantas, orang yang tidak beliau doakan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa ketika ia bersin, engkau doakan, sementara saya tidak?’ Kemudian Rasul bersabda, ‘Ia tadi mengucapkan hamdalah ketika bersin, maka kami mendoakannya. Sementara engkau tidak membaca hamdalah ketik bersin tadi, maka kami pun tidak mendoakanmu.’”
Khalifah Harun ar-Rasyid lalu berkata kepada kadi Afiyah, “Silakan engkau kembali menjalankan tugasmu sebagai kadi. Dalam masalah bersin saja engkau tidak kenal kompromi, apalagi dalam masalah yang lain.” (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah)
Hikmah
Dari bersinnya khalifah, kita dapat menilai integritas seorang hakim. Kepekaan dan pandangan mendalam seorang pemimpin memang sangat diperlukan dalam menilai seseorang untuk memegang amanah yang lebih besar.
Meski ada pengaduan perihal kadi Afiyah, khalifah tidak langsung menelan mentah-mentah aduan tersebut. Beliau melakukan klarifikasi kepada sang hakim tentang apa yang terjadi. Sikap pemimpin seperti ini memang wajib menjadi role model dalam memilih pejabat. Pemimpin bertanggung jawab terhadap seluruh pengaduan atas perilaku pejabatnya.
Dalam sejarah Islam, banyak sekali kisah hikmah yang inspiratif untuk menjadi teladan bagi umat hari ini. Mampukah sistem kapitalisme saat ini meneladani kepemimpinan sebagaimana sistem Islam saat menguasai dunia dan memimpin peradaban? Jawabannya, belum ada. Kalaupun ada, hanya segelintir dan langka.
Sejarah telah membuktikan bahwa Islam mampu mewujudkan keteladanan kepemimpinan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perihal bersinnya khalifah saja dapat menjadi hikmah yang luar biasa, apalagi kebijakan yang lahir dari sistem Islam yang agung. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
