Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF –– Tentu kita selalu mengingat sosok shahabiyah yang satu ini. Kekuatan iman yang dimilikinya mengantarkannya kepada surga yang dijanjikan. Beliau adalah syahidah pertama, Sumayyah binti Khabath atau lebih dikenal sebagai Ummu Ammar. Beliau adalah Bunda dari Ammar bin Yassir, salah seorang sahabat Rasulullah saw..
Sebelum mengenal Islam, Sumayyah adalah budak Abu Hudzaifah bin Mughirah al-Makhzumi, seorang tokoh terkemuka di kota Makkah. Ia dinikahkan oleh Abu Hudazaifah dengan Yasir, seorang penduduk Yaman yang menetap di Makkah karena ada suatu kepentingan, yaitu mencari saudaranya yang hilang.
Asal Mula Sumayyah Memeluk Islam
Dari pernikahannya dengan Yasir, Sumayyah dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama Ammar bin Yasir. Dalam kitab lain disebutkan bahwa Sumayyah dikaruniai dua orang putra, yaitu Ammar dan Ubaidillah. Kebahagiaan pasangan ini makin sempurna ketika Abu Khudzaifah (majikan mereka) memutuskan untuk memerdekakan Ammar dari statusnya sebagai budak. Namun, Abu Khudzaifah meninggal dunia tidak lama kemudian.
Menjelang dewasa, Ammar mengetahui agama baru yang didakwahkan Rasulullah saw.. Mendengar risalah Rasulullah saw., Ammar segera membuka hatinya untuk menerima seruan iman. Ia bergegas ke rumah Al-Arqam dengan langkah ringan dan cepat. Setibanya di sana, ia melihat Nabi saw., lalu mendengarkan wahyu yang disampaikan. Ammar pun akhirnya masuk Islam.
Istimewanya, setelah mengucapkan kalimatusyahadat di hadapan Rasul, Ammar kembali ke rumahnya. Ia menemui orang tuanya dalam keadaan tengah merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Ia menceritakan kejadian yang dialaminya hingga pertemuannya dengan Rasulullah saw., lalu menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah baru itu. Dengan izin Allah Swt., Sumayyah dan Yasir menyambut dakwah yang penuh berkah tersebut. Bahkan, Sumayyah mengumumkan keislamannya, sehingga ia menjadi salah satu dari tujuh orang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka.
Syahidah Pertama
Diriwayatkan dari Abu Nuaim dari Abdullah yang menuturkan, “Ada tujuh orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya secara terbuka, yaitu Rasulullah saw., Abu Bakar, Ammar, Ummi Ammar (Sumayyah), Shuhaib, Bilal, dan Miqdad. Rasulullah saw. dilindungi Allah Swt. melalui pamannya. Abu Bakar dilindungi Allah Swt. melalui kaumnya. Adapun lima orang lainnya disiksa oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik memaksa mereka memakai baju besi, lalu membiarkan tubuh mereka terpanggang sinar matahari. Mereka semua tidak berdaya sehingga mengikuti keinginan orang-orang musyrik, kecuali Bilal. Ia merasakan siksaan itu masih terlalu ringan selama menjalaninya karena Allah. Ia tidak menghiraukan siksaan yang dilakukan oleh kaumnya. Bilal terus mengucapkan, “Ahad, Ahad.”
Dalam kitab sirah Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq berkata, “Ketika panas matahari terik membara, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya ke padang pasir Makkah untuk disiksa. Ketika keluarga islami ini sedang disiksa, Rasulullah saw. berjalan melewati mereka. Beliau saw bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir karena yang dijanjikan kepada kalian adalah surga. Sungguh, aku tidak memiliki sesuatu pun dari Allah untuk kalian.”
Tidak ada yang dikatakan Sumayyah saat itu, kecuali, “Sungguh, aku melihat surga tampak nyata, ya Rasulullah.” Kabar gembira yang disampaikan Rasulullah saw. kepada keluarganya membuat Sumayyah makin tegar dan optimis. Dengan kekuatan imannya, ia mengulang-ngulang perkataannya dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”
Perkataan Sumayyah tersebut mengundang kemarahan kafir Quraisy hingga kemarahan mereka mencapai puncaknya. Abu Jahal turut dalam penyiksaan itu hingga Sumayyah harus meregang nyawa di tangannya. Ia menghunjamkan tombak pendek pada qubul (kemaluan) Sumayyah hingga wafat sebagai syahidah pertama. Mujahid dalam kitab Al-Bidaayah wa Nihaayah menyatakan, ”Wanita pertama yang gugur sebagai syahidah pada fase awal perkembangan Islam adalah Ummu Ammar, Sumayyah. Abu Jahal menusuk qubul Sumayyah dengan tombak pendek.”
Demikianlah, akhirnya Sumayyah harus meregang nyawa di tangan Abu Jahal. Sumayyah meraih predikat syahadah dalam sejarah Islam. Penyiksaan itu didapatkan Sumayyah dari orang-orang Quraisy, hingga ia dieksekusi mati di hadapan keluarganya lewat tangan kotor Abu Jahal.
Jasad dan ruh Sumayyah telah terpisah untuk tetap abadi menjemput janji Rasulullah saw. di surga. Ia menjadi wanita pertama yang syahid di jalan Allah. Tidak lama kemudian, suaminya, Yasir, menyusul menghadap Rabb Semesta Alam. Mereka berdua syahid pada tahun ketujuh sebelum hijrah. Yasir dan Sumayyah digambarkan sebagai orang-orang yang dijanjikan Allah kehidupan yang lebih baik. Ini sesuai dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS An-Nahl: 41).
Pelajaran Berharga dari Seorang Perempuan Mulia
Banyak teladan yang bisa kita ambil dari sosok Sumayyah dan keluarganya, di antaranya sifat hanif (berpegang teguh pada Islam) yang ada pada diri mereka ketika bersentuhan dengan agama baru, yaitu Islam. Ketika mendapati kebenaran dalam ajaran Islam, mereka bersegera memeluknya hingga mereka memasuki kehidupan baru yang penuh cahaya keimanan.
Kaum muslim harus meneladan kehidupan Sumayyah binti Khabath yang menerima Islam dengan utuh sehingga kita menjadi muslim sejati yang benar-benar tunduk kepada ketetapan Allah Taala. Selain itu, kekuatannya memegang teguh keyakinannya dan kesabarannya menghadapi cobaan di dalamnya. Ini tampak dari sikap Sumayyah terhadap penganiayaan yang menimpa dirinya.
Dalam satu riwayat diceritakan bagaimana Sumayyah dan keluarganya diseret ke tengah lapangan yang panas dan disuruh memakai baju besi. Mereka tidak diberi minuman, bahkan tetap dibiarkan terpanggang sinar matahari. Namun, penyiksaan yang didapat tidak membuat mereka melepaskan keyakinannya. Bahkan, Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyatakan, “Sumayyah termasuk golongan para sahabat yang mengalami penyiksaan di jalan Allah dan sabar terhadap penderitaan yang menimpanya. Ia termasuk wanita yang berbaiat, baik, dan mulia. Semoga Allah mengasihinya.”
Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kehidupan kita pada hari ini. Tidak sedikit kesulitan hidup justru menyeret para muslimah menanggalkan keyakinannya. Mereka tergiur hanya dengan iming-iming sejumlah materi, lalu berpindah keyakinan. Bahkan, hanya karena urusan cinta atau lelaki yang dicintainya, tidak jarang ada muslimah yang menggadaikan akidahnya dan meninggalkan saudara-saudara seimannya.
Kekuatan iman seperti Sumayyah binti Khabath harus dimiliki setiap muslimah kini, ketika berbagai kesulitan hidup mendera, kadang hingga mengancam keislamannya. Jangan sampai hanya karena kesulitan materi, seorang muslimah harus meninggalkan keyakinannya. Seharusnya berbagai ujian dan kesulitan hidup makin menguatkan keimanan dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah. Semoga Allah Swt. senantiasa melindungi keimanan kita dari berbagai hal yang bisa memalingkan kita dari din yang lurus ini. Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
