Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Saudah binti Zam’ah adalah istri kedua Rasulullah ﷺ. Ia adalah putri dari Zam’ah bin Qais dari suku Quraisy. Ibunya bernama As-Syamus binti Qais bin ‘Amr yang berasal dari Yatsrib (Madinah). Sebelum menikah dengan Rasulullah ﷺ, suaminya adalah sepupunya sendiri yang bernama As-Sakran bin Amr. Keduanya termasuk di antara as-sabiqunal al-awwalun, yaitu para sahabat yang memeluk Islam pada periode awal risalah kenabian. Mereka juga termasuk rombongan yang hijrah ke Habasyah pada gelombang kedua. Saudah ra. menjanda karena suaminya wafat setelah kepulangan mereka ke Makkah.
Meskipun umurnya tidak muda lagi, tetapi Saudah ra. adalah wanita yang beriman kokoh. Rasulullah ﷺ melindunginya dari fitnah keluarganya yang masih musyrik dan memusuhi dakwah Islam. Keduanya menikah pada Ramadan tahun kesepuluh kenabian.
Termasuk Golongan as-Sabiqun al-Awwalun
Saudah binti Zam’ah termasuk wanita pertama yang memeluk Islam. Ia ikut hijrah dua kali, yakni hijrah ke Habasyah dan Madinah al-Munawwarah. Allah Swt. mengistimewakan golongan yang masuk Islam pada awal masa turunnya risalah Islam karena beratnya pengorbanan mereka. Pada saat itu, Islam masih sangat asing. Memilih Islam berarti jiwa dan harta menjadi taruhan. Demikianlah yang terjadi pada Saudah ra. saat itu.
Allah Swt. berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS At-Taubah: 100).
“Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hadid: 10).
Mereka ingin meraih rida Allah Swt. sehingga makin kokoh memegang Islam. Berbagai halangan dan rintangan mereka lalui dengan kesabaran karena pengorbanan di jalan Islam merupakan sebuah keniscayaan. Ini seperti halnya kehidupan kaum muslim kini ketika Islam hanya tersisa pada rutinitas ibadah tanpa ruh. Dengan demikian, keputusan untuk terus mengkaji Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari pasti akan terasa sangat berat dan terasing. Di tambah lagi, sistem dan suasana kehidupan yang jauh dari Islam, sekuler liberal, hijrah sebatas tampilan luar, dan individualistis. Oleh karenanya, komitmen untuk menjadi yang pertama dalam memegang teguh Islam dan memperjuangkannya butuh kekuatan iman nan kokoh, seperti halnya Saudah binti Zam’ah.
Kehidupan jahiliah yang mendominasi dan kejam ternyata tidak menggoyahkan keputusannya untuk tetap memeluk Islam. Bahkan, ia membela dan memperjuangkannya bersama as-Sabiqun al-Awwalun lainnya. Orang-orang musyrik Quraisy menyakiti setiap orang yang memeluk Islam dan mengikuti ajaran Rasululllah Muhammad ﷺ. Setiap kabilah menyekap, memukul, membiarkan kelaparan dan kehausan, serta menyeret mereka di padang pasir pada tengah hari yang terik. Orang Islam terus disiksa agar keluar dari Islam. Ajaran Islam dianggap mengancap eksistensi kekuasaan kafir Quraisy kala itu, sehingga berbagai upaya mereka lakukan untuk menghalangi dan menghabisi para pemeluk dan pejuang ajaran mulia ini.
Berharap Rida Rasulullah ﷺ
Saudah ra. selalu berusaha menyenangkan hati Rasulullah ﷺ walaupun ia harus mengorbankan kesenangan pribadinya. Ia tahu betul bahwa wanita yang paling dicintai Nabi Muhammad ﷺ dari sekian banyak istrinya adalah Aisyah ra. Oleh karenanya, ia ingin sekali menyenangkan hati Rasulullah ﷺ dengan memberikan hari gilirannya kepada Aisyah ra. demi mendapatkan rida Rasulullah ﷺ.
Aisyah ra. berkata, “Jika Rasulullah ﷺ hendak melakukan perjalanan jauh (safar), beliau selalu mengundi istri-istrinya. Siapa yang namanya keluar, maka ia yang menyertai beliau dalam perjalanan tersebut. Selain itu, beliau juga menggilir istri-istrinya setiap sehari semalam, kecuali Saudah. Ia memberikan hari gilirannya kepada Aisyah, istri Nabi ﷺ, untuk menyenangkan Rasulullah.” (HR. Bukhari).
Ketika usia Saudah ra. makin lanjut, ia merasa khawatir Rasulullah ﷺ akan menceraikannya. Ia berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku hendak memberikan hari giliranku kepada Aisyah.” Rasul menerimanya. Aisyah berkata, “Berkenaan dengan peristiwa ini dan peristiwa peristiwa lain yang serupa, menurutku itu sesuai dengan firman Allah Swt., “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. …” (QS An-Nisa: 128).
Aisyah ra. Kagum kepada Saudah ra.
Sikap itsar Saudah ra. yang luar biasa itu membuat Aisyah sangat kagum. Imam Muslim dalam sahihnya meriwayatkan tentang kekagumannya. Aisyah ra. berkata, “Tidak ada seorang wanita pun yang lebih ku sukai agar diriku menjadi sepertinya selain Saudah binti Zam’ah. Ia adalah wanita yang tegar dan berjiwa besar. Tatkala masuk usia senja, ia berkata, ‘Ya Rasulullah, aku hadiahkan jatah giliranku bersamamu untuk Aisyah.’” (HR Muslim).
Wanita yang Sangat Dermawan️
Saudah ra. adalah wanita yang dermawan dan murah hati. Ia tidak pernah tergoda oleh kemewahan dan kesenangan dunia. Setiap kali mendapatkan harta, ia akan segera membagikannya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pascapenaklukan benteng Yahudi Khaibar, Saudah ra. mendapat jatah rampasan perang sebesar 80 wasaq (sekitar 10 ton) kurma dan 20 wasaq (sekitar 2,5 ton) gandum. Namun, sebelum sampai ke rumahnya, ia sedekahkan semua bagi orang-orang yang membutuhkan.
Ibnu Sirin menceritakan bahwa pada saat Umar bin Khaththab menjadi khalifah, ia pernah memberi satu karung berisi uang dirham kepada Saudah. Ketika melihatnya, Saudah bertanya, “Apa yang ada di dalam karung ini?” Petugas Umar menjawab, “Uang dirham.” Saudah ra. terkejut dan berkata, “Karung ini berisi uang dirham seperti kurma! Hai pelayan, ambilkan nampan!” Saat itu juga, Saudah ra. membagikan uang dirham tersebut kepada orang-orang yang memerlukan.
Sungguh luar biasa pribadi Saudah ra., sang Ummul Mukminin. Ia adalah seorang wanita as-sabiqun al-awwalun yang patut dicontoh oleh para muslimah zaman ini. Hidupnya hanya untuk meraih rida Allah Swt. dan Rasulullah ﷺ. [MNews/YG]
Sumber: 35 Sirah Shahabiyah: 35 Sahabat Wanita Rasulullah saw/ Mahmud Al-Mishri/ Al-I’tishom
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
