Penulis: Arini Retnaningsih
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Ramadan, bulan mulia ini bukan sekadar momen ibadah. Ramadan juga merupakan bulan perjuangan, bulan pembuktian iman, dan bulan hidayah. Ketika pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu, hidayah Allah bertaburan di semesta alam. Tinggal manusianya, ia hendak membuka hati untuk meraih keberkahan Ramadan atau tidak.
Momen mulia ini tidak dilewatkan oleh Rasulullah saw. Pada Ramadan 10 H, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, beliau saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan mengutusnya ke Yaman. Sebelumnya, Rasulullah saw. telah mengutus Khalid bin Walid ke Yaman untuk mengajak penduduknya kepada Islam, tetapi mereka belum menerima dakwahnya. Kemudian, Rasulullah saw. mengutus Ali bin Abi Thalib menggantikan Khalid dan memerintahkan agar orang-orang yang bersama Khalid kembali, kecuali yang ingin tetap bersama Ali. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Peristiwa ini menggambarkan kejelian Rasulullah saw. dalam berdakwah. Saat beliau melihat bahwa Khalid bin Walid mengalami penolakan, beliau tidak memaksakan Khalid untuk memerangi penduduk Yaman. Rasulullah saw. bisa membaca situasi bahwa penduduk Yaman adalah orang-orang yang hanif, hanya mereka membutuhkan orang yang mampu mengambil hati mereka. Tentang penduduk Yaman, diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri ra., beliau mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
إنه سيأتي قوم تحقرون أعمالكم إلى أعمالهم
“Sesungguhnya akan datang kaum, yang kalian akan merasa sungkan jika membandingkan amalan kalian dengan amalan mereka.”
“Apakah mereka kaum dari kaum Quraisy ya Rasulullah?” tanya para sahabat.
لا و لكن هم أهل اليمن
“Bukan, mereka adalah penduduk Yaman.” jawab Rasulullah. (HR Ibnu Abi Ashim, disahihkan oleh Imam Muqbil Al-Wadi’i).
Ali bin Abi Thalib menceritakan pengutusan beliau ke Yaman sebagai berikut, ”’Rasulullah saw mengutusku ke Yaman sebagai hakim.’ Aku berkata, ’Wahai Rasulullah, engkau mengutusku kepada suatu kaum, sedangkan aku masih muda dan belum berpengalaman dalam memutuskan perkara.’”
Beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memberi petunjuk kepada hatimu dan meneguhkan lisanmu.
Jika dua orang yang bersengketa duduk di hadapanmu, maka janganlah engkau memutuskan perkara hingga engkau mendengar dari yang lain sebagaimana engkau mendengar dari yang pertama. Karena dengan demikian lebih layak bagimu untuk mengetahui keputusan yang benar.”
Ali berkata, “Maka setelah itu aku tidak pernah ragu dalam memutuskan perkara.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Ali bin Abi Thalib memang menantu Rasulullah saw. Namun bukan karena hal itu beliau mengutus Ali. Beliau saw. telah melihat potensi yang dimiliki Ali. Kecerdasan Ali yang dijuluki ”kunci ilmu”, kebijaksanaannya, serta ketangguhannya, semua menjadi pertimbangan Rasulullah saw. dalam mengutus Ali. Hal ini bukan nepotisme sebagaimana yang berkembang di tengah masyarakat saat ini. Para pemimpin, mengangkat anak, saudara, atau orang-orang terdekatnya sebagai pejabat, padahal tidak memiliki kapasitas yang layak. Penugasan Ali adalah pilihan yang matang dari Rasulullah saw.
Al-Bara bin Azib ra. yang mendampingi Ali bin Abi Thalib di Yaman menceritakan bahwa Ali ditugaskan untuk menyampaikan surat Rasulullah saw. untuk penduduk Yaman. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Memang tidak ada riwayat yang menjelaskan isi surat secara detil, namun berbagai riwayat dalam kitab sirah dan hadis menyebutkan bahwa inti dari surat tersebut adalah ajakan kepada tauhid, seruan masuk Islam, serta penjelasan kewajiban zakat dan ketaatan kepada utusan Nabi saw.
Pengiriman surat melalui para utusan atau duta kepada para pemimpin negara, menjadi salah satu dalil bahwa Rasulullah saw. menempatkan diri sebagai pemimpin yang setara dengan para pemimpin negara. Artinya, beliau tidak sekadar membangun masyarakat di Madinah seperti yang diopinikan oleh para pengusung moderasi, namun beliau membangun negara dan melakukan aktivitas-aktivitas kenegaraan.
Ali bin Abi Thalib pun berangkat bersama pasukan berjumlah 300 orang yang terdiri dari sahabat-sahabat pilihan. Mereka menempuh perjalanan panjang menuju Yaman dengan penuh semangat dan ketaatan kepada perintah Rasulullah saw. Ramadan tidak membuat mereka lemah, karena keimanan yang menghunjam dalam diri mereka dan keyakinan akan besarnya pahala yang Allah sediakan bagi orang-orang yang beramal di bulan penuh kemuliaan ini.
Sesampainya di Yaman, Ali bin Abi Thalib mendakwahkan Islam dengan kelembutan dan hikmah. Ia mengajak penduduk setempat untuk masuk Islam dengan damai. Memang dalam beberapa peristiwa, Ali bin Abi Thalib juga harus menangani perselisihan antara suku-suku yang masih berpegang pada tradisi lama. Dengan kebijaksanaannya, ia mampu menyelesaikan masalah demi masalah di hadapannya.
Penduduk Yaman yang melihat akhlak dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib akhirnya menerima Islam dengan suka cita. Banyak dari mereka yang bersyahadat dan berserah diri kepada aturan Islam. Mereka melihat bahwa Negara Islam berbeda dengan negara lainnya. Negara-negara adidaya menundukkan negara lain dengan cara menjajah dan menerapkan pajak yang tinggi, namun Islam justru sebaliknya. Islam menawarkan kesamaan hak dan kewajiban dengan kaum muslim, memberikan perlindungan, dan mewujudkan kemakmuran dengan hukum-hukum syarak yang diterapkan di negeri-negeri yang ditaklukkan. Islam mewujudkan rahmatan lil ’alamin kapan pun dan di mana pun.
Dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah Jilid 5, Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa Ali Bin Abi Thalib membacakan surat Rasulullah saw. kepada penduduk Yaman yang mengajak mereka masuk Islam. Mereka menerima dengan baik, bahkan kabilah Hamdan masuk Islam seluruhnya hanya dalam waktu satu hari (HR Bukhari).
Ali bin Abi Thalib kemudian mengirimkan surat kepada Rasulullah saw. mengabarkan masuk Islamnya kabilah Hamdan. Beliau saw. lantas bersujud syukur kepada Allah dan bersabda, “Salam sejahtera atas Hamdan, salam sejahtera atas Hamdan.” (HR Bukhari, dikuatkan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak Jilid 3).
Selesai menjalankan tugasnya, Ali kemudian kembali dan menemui dan bergabung bersama Rasulullah saw. di Makkah saat beliau tengah menjalankan haji wada’.
Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ahji di dalam kitab Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw. (2018), menceritakan bahwa delegasi Hamdan dari Yaman datang kepada Rasulullah saw. ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Tabuk untuk menyatakan ketaatan mereka kepada aturan Islam. Rasulullah saw. pun mengutus para guru yang akan mengajarkan Islam bersama mereka. Rasulullah saw. juga mengirimkan surat yang berisi hak dan kewajiban mereka sebagai muslim, sehingga tuntaslah Islam masuk ke Yaman.
Demikianlah, Ramadan sebagai bulan mulia yang di dalamnya dilipatgandakan pahala-pahala amal saleh. Bulan penuh berkah ini seharusnya menjadi pelecut semangat kita untuk berbuat lebih banyak dalam perjuangan meninggikan Islam. Ini adalah momen terbaik untuk mengingatkan umat akan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat dalam membangun negara Islam untuk menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna. Wallahualam bissawab. [MNews/NA]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
