Penulis: Rif’ah Kholidah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan raja dari dinasti Romawi yang ingin meminangnya.
Alaudin Abu Bakar al-Kasani adalah seorang lelaki bergelar Malikul Ulama (Rajanya para ulama). Ia menyusun kitab Al-Badai yang merupakan syarah kitab Tuhfatul Fuqaha. Kemudian ia memperlihatkan kitab Al-Badai kepada gurunya yang tiada lain adalah ayah Fatimah, sehingga gurunya makin senang kepadanya. Sang guru lalu menikahkan Alaudin Abu Bakar al-Kasani dengan putrinya. Alaudin Abu Bakar al-Kasani menjadikan kitab syarahnya sebagai maharnya. Orang-orang pada zamannya mengatakan, “Ia mensyarah kitab Tuhfah dan menikahi putrinya.”
Fatimah as-Samarqandi merupakan seorang ahli fikih dan hadis. Pada suatu hari, suaminya salah memberikan fatwa, maka ia pun mengoreksi dan mengembalikannya kepada pendapat yang benar. Konon, sejumlah fatwa diputuskan dan dikeluarkan dari rumahnya dengan tanda tangannya dan ayahnya. Ketika ia menikah dengan penulis kitab Al-Badai, setiap fatwa yang keluar dari rumahnya harus dibubuhi tanda tangannya, ayahnya, dan juga suaminya.
Demikianlah Fatimah binti as-Samarqandi, seorang ahli fikih dan ilmu hadis yang telah mempelajari ilmu dari sejumlah fukaha, lalu banyak orang mempelajari ilmu darinya. Ia memiliki sebuah halaqah ilmu yang diikuti oleh sejumlah ulama besar. Ia bersifat zuhud dan warak. Ia menulis sejumlah karya dalam bidang fikih dan hadis yang tersebar di kalangan para ulama yang mulia.
Fatimah as-Samarqandi hidup sezaman dengan Khalifah Nuruddin Mahmud Zanki. Nuruddin seringkali meminta nasihatnya dalam beberapa urusan dalam negeri dan mengambil beberapa pandangannya dalam masalah fikih. Nuruddin pun selalu memperhatikan kesejahteraannya.
Demikianlah, muslimah pada zaman dahulu menjadi saksi atas kebangkitan ilmu yang mengagumkan, sehingga mampu memimpin umat dengan ilmu dan kebijaksanaan. Dari sepenggal kisah Fatimah binti as-Samarqandi, kita dapat mengambil beberapa hikmah.
Pertama, Fatimah binti as-Samarqandi mengajarkan kepada kita bahwa nilai suatu ilmu dalam kehidupan tidak bisa dihargai dengan materi. Dengan demikian, Fatimah ikhlas menjadikan kitab Al-Badai sebagai mahar pernikahannya.
Kondisi ini tentu berbeda dengan kondisi dalam sistem sekuler hari ini. Para wanita masih memilih mahar pernikahan berupa barang-barang mewah dan branded. Walaupun menentukan pilihan mahar merupakan hak wanita, tetapi Fatimah as-Samarqandi mampu menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang lebih berharga. Ini karena ilmu akan memberikan petunjuk dan cahaya dalam kehidupan.
Kedua, Alauddin as-Samarqandi, ayah Fatimah as-Samarqandi memberikan teladan bagi kita sebagai sosok ayah sekaligus pendidik yang baik. Ia mampu mengajarkan putrinya sehingga hafal kitab Tuhfatul Fuqaha yang beliau tulis.
Ketiga, Fatimah as-Samarqandi mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslimah dengan kapasitas keilmuannya mampu berkiprah di tengah umat untuk memberikan pengajaran berupa halaqah ilmu kepada para ulama besar dengan tetap menjaga sifat warak dan zuhud.
Keempat, Fatimah as-Samarqandi mengajarkan kepada kita untuk tidak segan memberi nasihat kepada penguasa dalam urusan kenegaraan maupun masalah fikih. Ini menunjukkan kedudukan penting muslimah berilmu di hadapan penguasa, sehingga penguasa pun meminta nasihat kepadanya.
Kisah Fatimah as-Samarqandi menegaskan kepada kita tentang pentingnya ilmu sebagai bekal dalam kehidupan. Dengan demikian, ilmu mampu memberikan warna untuk dirinya, masyarakat, maupun negara. Bahkan, kedudukan orang berilmu lebih tinggi dari ahli ibadah. Ini karena ahli ibadah hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dengan ibadah yang ia kerjakan. Sementara itu, ahli ilmu akan memberikan kemanfaatan untuk dirinya dan orang lain ketika ia mengajarkan ilmunya kepada umat. [MNews/YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
