Penulis: Rif’ah Kholidah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara para wanita yang kisah cemerlangnya diabadikan oleh sejarah sehingga menjadi saksi atas kemulian dan kedudukan mereka adalah Sayidah Ummu ad-Dahdah. Beliau adalah istri dari Abu ad-Dahdah dan termasuk golongan sahabat Rasullulah saw.. Adapun kisah tentang dirinya tercantum dalam hadis Abu ad-Dahdah ketika beliau menyerahkan kebunnya dengan ikhlas.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak.” (QS Al-Baqarah: 245 ). Kemudian Abu ad-Dahdah al-Anshari berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Allah menginginkan pinjaman dari kita?” Rasulullah saw. bersabda, “Benar, wahai Abu ad-Dahdah.” Abu ad-Dahdah pun berkata, “Berikan tanganmu kepadaku, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. pun memberikan tangan beliau kepadanya, lalu Abu ad-Dahdah berkata, “Sungguh, aku telah meminjamkan kebunku untuk Rabb-ku.”
Pada saat itu, Abu ad-Dahdah memiliki sebuah kebun yang di dalamnya ada enam ratus pohon kurma. Ummu ad-Dahdah dan anak-anaknya tinggal di dalam kebun tersebut. Kemudian Abu ad-Dahdah masuk ke kebunnya seraya memanggil istrinya, “Wahai Ummu ad-Dahdah!” Istrinya menjawab, “Aku memenuhi panggilanmu.” Abu ad-Dahdah berkata, “Keluarlah karena aku telah meminjamkannya kepada Rabb-ku.”
Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ummu ad-Dahdah berkata kepada suaminya, “Perniagaanmu telah menghasilkan keuntungan, wahai Abu ad-Dahdah.” Kemudian ia memindahkan barang-barangnya dan juga anak-anaknya. Sesungguhnya Rasulullah saw. pun telah bersabda, “Betapa banyaknya pelepah pohon-pohon besar milik Abu ad-Dahdah di surga.”
Ummu ad-Dahdah telah mendukung suaminya dalam melakukan kebaikan yang ia inginkan dengan segenap keridaan karena mengharapkan apa yang ada di sisi Allah Taala. Ia tidak berkata kepada suaminya, “Sisakanlah untuk anak-anak kita,” atau “Mengapa engkau melakukan hal ini? Bukankah kita bisa memberikan sebagian dan menyisakan sebagiannya lagi untuk kita?” Ia tidak melakukan hal tersebut. Ia justru menambahkan kekuatan kepada suaminya untuk beramal saleh, serta memberikan kabar gembira kepadanya bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan perniagaan yang menguntungkan. Sebabnya, tidak ada perniagaan yang lebih menguntungkan daripada sesuatu yang dijual kepada Allah Taala.
Allah Swt. berfirman, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal. Dan Kami pasti akan memberikan balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 96).
Dari sepenggal kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, pentingnya suami istri mempunyai pemahaman dan pemikiran yang sama dalam memandang harta kekayaan yang dititipkan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya. Sesungguhnya harta adalah amanah yang harus dijaga dan digunakan untuk kepentingan memperjuangkan agama Allah.
Kedua, seorang istri harus memberikan dukungan dan motivasi ketika suaminya melaksanakan kebaikan. Kedermawanan Abu ad-Dahdah didukung penuh oleh istrinya. Bahkan istrinya memerintahkan agar ia menyedekahkan seluruh hartanya untuk memperjuangkan agama Allah dan meraih rida-Nya. Tentu kondisi seperti ini sangat ditopang oleh sistem kehidupan yang terjadi pada saat itu ketika Islam diterapkan secara kafah, sehingga umat terdorong untuk melakukan banyak kebaikan.
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini, kebanyakan orang-orang mencari harta sebanyak-banyaknya dan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Bahkan, sosok seorang istri kadang dikenal sebagai penghambat ketika suaminya menyedekahkan hartanya.
Ketiga, suami istri harus yakin bahwa kelak di akhirat, Allah pasti akan membalas harta kekayaan yang diinfakkan di jalan-Nya dengan pahala yang lebih baik. Ini adalah janji Allah kepada hamba-Nya.
Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita untuk belajar dari sikap Ummu ad-Dahdah dalam menginfakkan harta kekayaannya. Ia melakukannya tanpa ada rasa enggan dan khawatir terhadap masa depan kehidupan anak-anaknya. [MNews/YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
