Penulis: dr. Faizah Rosyidah, M.Ked.Trop.
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Khadijah bukanlah perempuan biasa di Makkah. Ia seorang perempuan mulia dari Quraisy. Ia berasal dari keluarga terpandang Quraisy dan dikenal luas sebagai pedagang sukses yang memiliki reputasi kejujuran dan kecerdasan. Karena kemuliaan akhlaknya, masyarakat Makkah menjulukinya Ath-Thāhirah—perempuan yang suci.
Namun, kemuliaan Khadijah tidak hanya terletak pada harta dan kedudukannya. Ia memiliki hati yang peka terhadap kebenaran. Ketika ia mendengar tentang kejujuran seorang pemuda bernama Muhammad, ia mempercayakan kepadanya perjalanan dagang ke Syam. Kejujuran dan amanah Nabi dalam perjalanan itu membuat Khadijah semakin kagum dan mengajukan pernikahan kepada Muhammad. Pernikahan itu menjadi salah satu pernikahan paling penuh berkah dalam sejarah manusia.
Orang Pertama yang Beriman
Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Nabi saw. pulang dengan tubuh gemetar. Pengalaman bertemu malaikat Jibril membuat beliau diliputi kegelisahan. Beliau berkata kepada istrinya, “Selimuti aku… selimuti aku.”
Khadijah tidak ragu sedikit pun. Ia menenangkan suaminya dengan kata-kata yang penuh keyakinan, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau menyambung silaturahim, menolong orang lemah, memuliakan tamu, dan membantu orang yang tertimpa musibah.”
Khadijah tidak hanya menenangkan Nabi saw. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada risalah Islam, tanpa ragu dan tanpa syarat. Riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab hadis sahih dan juga dalam karya-karya sirah klasik seperti Sirah Nabawiyyah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam.
Pilar Dakwah pada Masa Paling Sulit
Ketika dakwah Islam dimulai secara terbuka, tekanan dari kaum Quraisy semakin keras. Para sahabat disiksa, bahkan Nabi saw. dihina dan dituduh gila. Banyak orang menjauh karena takut pada kemarahan pemimpin Quraisy. Namun, rumah Nabi saw. tidak pernah kehilangan ketenangan. Khadijah selalu berada di sisi beliau. Ia mengorbankan hartanya untuk mendukung dakwah Islam. Banyak kebutuhan kaum muslim dipenuhi dari kekayaan yang dimiliki Khadijah.
Sejarawan besar Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah menegaskan bahwa Khadijah memainkan peran penting dalam menopang dakwah Nabi saw. pada masa-masa awal yang sangat berat. Tanpa dukungan moral dan materi dari Khadijah, perjuangan di masa awal itu akan jauh lebih sulit.
Penderitaan terbesar datang ketika kaum Quraisy melakukan boikot sosial dan ekonomi terhadap Bani Hasyim. Kaum muslim dipaksa hidup di sebuah lembah sempit yang dikenal sebagai Syi‘b Abi Thalib. Selama hampir tiga tahun mereka hidup dalam kekurangan, makanan sangat sedikit, bahkan terkadang mereka hanya makan daun-daunan untuk bertahan hidup.
Khadijah yang sebelumnya hidup dalam kemewahan kini merasakan kelaparan bersama kaum muslim. Namun, tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan ia mengeluh. Ia tetap berdiri dengan kukuh dan tenang di sisi Nabi saw.
Tahun Kesedihan
Setelah boikot berakhir, tubuh Khadijah tidak lagi sekuat dahulu. Bertahun-tahun penderitaan dan kesulitan telah menggerogoti kesehatannya. Hingga datanglah bulan Ramadan tahun kesepuluh kenabian.
Di rumah sederhana Nabi, kondisi Khadijah semakin melemah. Pada suatu hari di bulan yang penuh berkah itu, perempuan yang selama seperempat abad menjadi sahabat hidup Nabi menghembuskan napas terakhirnya. Khadijah wafat pada usia sekitar 65 tahun. Nabi Muhammad ﷺ sangat berduka. Beliau sendiri yang turun ke liang lahat untuk menguburkan Khadijah di pemakaman Jannat al-Mu’alla di Makkah. Peristiwa ini disebutkan dalam banyak kitab sejarah Islam, termasuk dalam Sirah Nabawiyyah, riwayat Ibnu Hisyam, serta karya Ibnu Katsir.
Tidak lama setelah wafatnya Khadijah, paman Nabi, Abu Thalib ibn Abdul Muthalib, juga meninggal dunia. Dua kehilangan besar ini terjadi hampir bersamaan. Oleh karena itulah, tahun tersebut dikenal dalam sejarah Islam sebagai ‘Ām al-Ḥuzn—Tahun Kesedihan.
Ibu dari Perjuangan Islam
Khadijah bukan hanya seorang istri. Ia adalah sahabat, penopang, dan pendukung penuh bagi perjuangan Nabi saw. Setelah kepergiannya, Nabi sering mengenang Khadijah dengan penuh cinta sepanjang hidupnya. Dalam riwayat hadis sahih, beliau pernah berkata bahwa Allah tidak memberinya pengganti yang lebih baik dari Khadijah, ia beriman ketika orang lain mengingkari, ia mempercayai ketika orang lain mendustakan, dan ia menolong dengan hartanya ketika orang lain menahan bantuan.
Khadijah binti Khuwailid wafat tanpa menyaksikan kemenangan besar Islam. Ia tidak melihat Fathu Makkah. Ia tidak melihat ribuan orang masuk Islam. Namun, perannya menjadi fondasi bagi semua kemenangan itu. Setiap keberhasilan dakwah Nabi di masa berikutnya berdiri di atas pengorbanan orang-orang awal yang beriman—dan Khadijah adalah yang pertama di antara mereka.
Nama “Khadijah” selalu disebut dengan penghormatan dalam sejarah Islam. Ia adalah ibu bagi orang-orang beriman. Ia adalah ibu dari perjuangan Islam. Pada bulan Ramadan itu, ketika Khadijah berpulang ke pangkuan Rabb-nya, dunia kehilangan salah satu cahayanya, perempuan paling mulia, dan pilar pertama yang menopang lahirnya peradaban Islam. [MNews/NA]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
