Wujudkan Cita Umat

NE

News Elementor

What's Hot

Pasukan Muslim Pertama Tiba di Andalusia pada 91 H

Table of Content

Penulis: Bunda Nabila Asy-Syafi’i

Muslimah News, FOKUS — Pembebasan atau penaklukan kaum muslim ke wilayah baru bukan untuk tujuan mencari jajahan baru, bukan juga  untuk mengeruk berbagai sumber  kekayaan alam di daerah baru. Sebaliknya, bertujuan untuk mengemban dakwah di jalan Allah dan mengajarkan manusia tentang Islam. Juga membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menjadi penghambaan hanya kepada Allah semata.

Gambaran yang demikian ini bisa dilihat dari fragmen percakapan antara utusan Khalifah Umar bin Khaththab yang bernama Rib’i bin Amir dengan Rustum sang panglima Persia sebelum terjadinya perang Qadisiyah. Rustum bertanya kepada Rib’i bin Amir, “Apa yang menyebabkan kalian datang ke negaraku?”

“Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Ia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangan, dari kelaliman semua agama menuju keadilan Islam. Maka Ia mengutus kami untuk membawa agama-Nya kepada seluruh makhluk-Nya agar kami mengajak mereka mengikutinya. Siapa saja yang menerima, maka kami pun akan menerima dan tidak memeranginya. Namun, siapa yang menolak, kami akan memeranginya untuk selamanya hingga kami menemui janji Allah.” Demikianlah jawaban Rib’in bin Amir.

Rustum bertanya lagi, “Apa janji Allah itu?”

“Surga bagi yang gugur saat memerangi orang yang ingkar, dan kemenangan bagi yang masih hidup,” jawab Rib’i bin Amir.

Sungguh misi politik luar negeri yang suci dan mulia ini hanya dimiliki negara Khilafah Islamiah. Misi ini terus berjalan sepanjang masa Khilafah.

Pada masa Khilafah Umawiyah, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, Islam berkembang pesat. Seluruh kawasan Afrika bagian utara telah masuk dalam pangkuan Islam, meliputi Mesir, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan tepian Samudra Atlantik. Untuk melanjutkan daerah penaklukan ada dua pilihan, yakni mengarah ke utara menyeberangi Selat Gibraltar dan masuk ke Andalusia (saat ini  Spanyol dan Portugis) atau mengarah ke selatan, masuk ke Padang Sahara yang masih sedikit penduduknya.

Saat itu dan sejak 597 M, wilayah Spanyol dikuasai bangsa Gotik, Jerman, dengan sang raja Roderick yang dikenal sebagai raja yang sangat zalim kepada rakyatnya. Ia menetapkan pajak tinggi, kemiskinan merata menimpa hampir seluruh rakyatnya, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, korupsi merajalela, pejabat berfoya-foya, namun rakyat sengsara. Akibatnya, banyak penduduknya yang bermigrasi ke Afrika Utara, mereka kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan gubernur Ceuta (Maroko) yang bernama Julian dan putrinya  yang bernama Florinda turut bermigrasi. Putri Florida ini telah dinodai oleh Raja Roderick.

Melihat kawasan Andalusia dalam kegelapan dan kezaliman penguasanya, Musa bin Nushair yang saat itu menjadi gubernur kawasan Maghribi, berencana membebaskan rakyat Andalusia (Spanyol) dan menyebarkan Islam ke kawasan tersebut.

Musa bin Nushair menyiapkan segala sesuatu untuk  pembebasan Spanyol, termasuk meminta izin kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Ketika izin turun, maka Musa bin Nushair menunjuk Tharif bin Malik yang memiliki nama kunyah Abu Zur’ah, sebagai pemimpin pasukan yang dikirim ke Andalusia Selatan. Inilah pasukan pertama yang menuju Andalusia, yang selanjutnya diteruskan oleh Thariq bin Ziyad dan pasukannya.  

Tharif bin Malik atau Abu Zur’ah berangkat dengan membawa pasukan 500 prajurit kaum muslim, terdiri atas 400 orang pasukan infanteri dan 100 orang pasukan kavaleri. Mereka tiba di Andalusia pada bulan Ramadan 91 H (710M). Tharif dan pasukannya menjalankan misinya dengan baik. Ia mempelajari wilayah Andalusia Selatan dan seluk beluknya. Selanjutnya, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Tharif (Tharif Island).

Setelah misinya selesai, Tharif kembali dan menghadap Gubernur Musa bin Nushair, melaporkan dan menjelaskan hal-hal yang dilihatnya, kesulitan wilayahnya, tantangan, hambatan, masyarakatnya, tokohnya, potensinya, dan sebagainya. Musa bin Nushair mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama.

Setelah mendapat laporan dari Tharif bin Malik, Musa bin Nushair semakin mantap untuk membebaskan Andalusia. Ia ber-iltizam (berkomitmen) dan berniat untuk menaklukkan Andalusia. Musa bin Nushair pun melakukan persiapan untuk membentuk pasukan yang tangguh dan perbekalan yang kuat.  Hal ini dilakukan selama setahun. Akhirnya, sebanyak 7000 prajurit tangguh telah siap untuk menjalan misi jihad fi sabilillah untuk membebasakan Andalusia, yang nanti akan dipimpin oleh Panglima Thariq bin Ziyad.

Dari lintasan sejarah Islam ini, kita bisa mengambil banyak pelajaran, antara lain sebagai berikut:

1. Penaklukan Islam bukanlah penjajahan, bukan pula untuk mengeruk kekayaan negara lain. Penaklukan Islam memiliki misi ilahi, yakni membebaskan penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Taala.

2. Seorang pemimpin  harus memiliki misi mulia, meninggikan kalimat Allah, mengemban Islam dengan dakwah dan jihad sebagaimana yang dilakukan Musa bi Nushair.

3. Menyusun strategi, persiapan, logistik, dan sebagainya, yang sangat diperlukan untuk memperoleh kemenangan, meski tetap harus melambungkan doa dan tawakal kepada Allah.

4. Politik luar negeri Daulah Islam adalah dakwah dan jihad.

    Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari pasang surutnya sejarah Islam untuk kebaikan umat pada masa kini dan yang akan datang. Wallahualam bissawab. [MNews/NA]


source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.

amaniyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan terkait

Trending News

Editor's Picks

Menyatukan Dua Generasi Demi Satu Amanah Dakwah

Generasi Z (Gen Z) memasuki panggung sejarah dengan sebuah kesadaran baru. Mereka menanggung beban hidup yang ditimbulkan oleh ideologi sekuler-kapitalisme dalam sistem demokrasi. Kesenjangan ekonomi, pengangguran, kerusakan iklim, ketidakadilan sosial, serta krisis kesehatan mental menjadi realitas yang menekan kehidupan mereka. Pada periode Agustus–Desember 2025, muncul fenomena pergerakan Gen Z yang dikenal dengan istilah glocal movement,...

BOLEHKAH ZAKAT MAL DIPRODUKTIFKAN (DIJADIKAN MODAL USAHA)?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya : Assalamu’alaikum ustadz. Tanya Ustadz. Kami pengurus masjid menerima zakat mal. Jika kami membagikan menjadikan zakat produktif, yaitu kita berikan untuk modal usaha atau kita berikan untuk membeli ternak dan sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, apakah hukumnya? Terima kasih Ustadz. (Sudiarno, Pulau Rupat, Bengkalis).   Jawab : Wa...

Fatimah binti as-Samarqandi, Muslimah Ahli Ilmu Bermahar Kitab Al-Badai

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan...

HUKUM SHOLAT GHAIB

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya :Assalamu’alaikum ustadz. Ibu istri meninggal dunia dan sudah dimakamkan hari Kamis pekan yang lalu di Bengkulu . Mau tanya Ustadz, ini teman-teman istri mau mengadakan sholat ghaib di Jogja apakah diperbolehkan? Atau kalau tidak boleh apakah ada syariat ibadah lainnya, atau cukup kita mendoakan saja ? Syukron...

Wujudkkan Cita Umat

Artikel Pilihan

©2025- All Right Reserved.