Wujudkan Cita Umat

NE

News Elementor

What's Hot

Buah Kesabaran Jaisy al-‘Usrah dan Ibrah Politis Perang Tabuk

Table of Content

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, KISAH RAMADAN — Perang Tabuk adalah bagian dari rencana politik dan militer yang dirancang oleh Rasulullah saw. bagi Negara Islam. Adapun sebab khususnya adalah sampainya informasi kepada bangsa Romawi tentang kemenangan Rasulullah saw. yang luas dan merata, meliputi kawasan penganut Yahudi dan paganisme, serta keberhasilan beliau membersihkan institusi politik kedua kaum tersebut di Jazirah Arab.

Mendengar hal itu, Romawi merasa batas-batas wilayah kekuasaannya terancam. Mereka juga menyadari bahwa di dekatnya telah berdiri negara baru yang kuat dan berpotensi mengakhiri pusat-pusat kekuatan kaum Nasrani. Oleh karena itu, Romawi memandang perlu menyiapkan pasukan untuk menghentikan kekuatan negara baru tersebut sebelum situasinya menjadi lebih gawat.

Kabar ini pun sampai kepada Rasulullah saw., bahwa Romawi sedang menyiapkan pasukan untuk memerangi negeri-negeri Arab bagian utara. Romawi bahkan diketahui menargetkan perang itu menjadi perang yang akan menjadikan manusia lupa tentang keberhasilan pasukan kaum muslim pada Perang Mu’tah. Rasulullah saw. memutuskan untuk menghadapi kekuatan ini dengan memimpinnya secara langsung.

Strategi Khusus dan Sikap Kaum Munafik

Peristiwa itu terjadi pada akhir musim panas dan awal musim gugur, tepatnya dari bulan Rajab hingga Ramadan, saat udara masih terasa panas. Perjalanan dari Madinah ke wilayah Syam sangat panjang dan berat, sehingga membutuhkan kekuatan, kesabaran, dan persediaan bahan makanan dan air yang cukup. Rasulullah saw. menyampaikan persoalan ini kepada kaum muslim. Ini berbeda dengan strategi beliau dalam peperangan sebelumnya. Biasanya, beliau menyembunyikan strategi dan arah yang hendak ditempuh demi mengelabui musuh, sehingga berita perjalanannya tidak tersebar luas.

Sebagai persiapan, beliau mengirim utusan ke beberapa kabilah untuk mengajak mereka menyiapkan pasukan sebesar mungkin. Beliau juga mengirim beberapa utusan untuk menemui para hartawan dari kaum muslim dan memerintahkan mereka mengeluarkan infak untuk mempersiapkan pasukan dengan jumlah dan perbekalan yang sangat banyak.

Beliau juga mendorong kaum muslim untuk bergabung dengan pasukan ini. Orang-orang yang telah menerima Islam dengan hati yang dipenuhi petunjuk dan cahaya, menyambut seruan Rasulullah saw. dengan lapang, ringan, dan gesit. Di antara mereka ada yang fakir dan tidak memiliki tunggangan untuk berperang. Ada pula yang kaya dan menyumbangkan hartanya.

Adapun orang-orang yang masuk agama Allah dengan harapan untuk memperoleh ganimah perang dan takut pada kekuatan kaum muslim, mereka merasa berat, berusaha mencari-cari alasan, saling melempar tugas di antara mereka, dan tidak menghiraukan ajakan Rasul saw. untuk berperang. Mereka inilah orang-orang munafik. Mereka berkata, “Janganlah kalian pergi berperang dalam suasana yang panas membakar.”

Kemudian turun firman Allah Taala, “Dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api Neraka Jahanam itu jauh lebih panas, andai saja mereka memahaminya.’ Maka, mereka tertawa sedikit sekali dan menangis banyak sekali sebagai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS At-Taubah [9]: 81-82).

Kaum munafik tidak hanya berlambat-lambat dan bermalas-malasan untuk pergi berperang, tetapi juga terus-menerus mendorong kaum muslim mengundurkan diri dari peperangan. Di antara orang munafik yang tidak ikut berangkat berperang adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Jumlah orang-orang munafik yang memihaknya kurang lebih separuh dari jumlah tentara kaum muslim.

Kaum munafik bahkan memfitnah kaum mukmin yang tidak ikut berangkat berperang, padahal mereka tinggal di Madinah karena mendapat perintah khusus dari Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib, misalnya, ditugasi oleh Rasulullah saw. untuk mengurusi keluarga beliau dan keluarga orang-orang yang pergi berjihad. Namun, kaum munafik menyebarkan berita bahwa Ali tidak ikut karena berniat menyelamatkan diri dari perang.

Mendengar berita ini, Ali segera mengambil senjatanya dan menyusul Rasulullah saw. Ali berkata, “Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik mengatakan bahwa engkau menyuruh aku tidak ikut berangkat perang, karena engkau melihat aku merasa keberatan dan menghindar dari kewajiban perang ini.” Rasulullah saw. bersabda kepada Ali, “Mereka dusta, tetapi aku menyuruhmu tidak ikut berangkat perang bersamaku agar kamu mengurusi keluargaku yang sedang aku tinggalkan.” Kemudian, Ali bin Abu Thalib kembali lagi ke Madinah.

Rasul saw. memandang perlu untuk mengambil tindakan tegas dan menghukum kaum munafik ini dengan keras. Keteguhan dan ketegasan Rasul saw. ini membawa pengaruh cukup kuat dalam mempersiapkan pasukan, sehingga pasukan besar dapat terkumpul yang jumlahnya mencapai 30.000 orang kaum muslim.

Namun demikian, tidak dimungkiri bahwa ada sekelompok kaum muslim yang terlambat berniat karena imannya sedang lemah sehingga mereka tunduk pada hawa nafsu. Mereka tertinggal dan tidak ikut berangkat bersama Rasulullah saw. Orang-orang berkata, “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang tertinggal.” Rasulullah saw. bersabda, “Biarkan dia. Jika pada dirinya terdapat kebaikan, Allah akan menyusulkannya kepada kalian. Jika tidak, Allah akan menghibur kalian darinya.”

Jaisy al-‘Usrah

Pasukan yang berangkat ke Tabuk ini diberi nama Jaisy al-‘Usrah (Pasukan Sengsara) karena ditugaskan dalam cuaca yang sangat panas untuk menghadapi musuh yang besar serta menyongsong pertempuran yang sangat jauh dari Madinah dengan biaya yang besar. Penampakan kekuatan pasukan tersebut mampu menggerakkan sebagian orang yang awalnya mundur dan enggan ikut, sehingga segera bergabung dengan pasukan dan berangkat menuju Tabuk.

Pada saat yang sama, pasukan Romawi sudah berkemah di Tabuk dan siap memerangi kaum muslim. Ketika sampai kepada mereka keberadaan pasukan kaum muslim, kekuatannya, dan jumlahnya yang banyak, mereka teringat kembali perang melawan kaum muslim di Mu’tah. Pasukan muslim pada pertempuran Mu’tah memiliki tekad dan  keberanian yang tidak kenal menyerah, padahal pasukan mereka tidak sebesar seperti pada pertempuran Tabuk ini.

Ketakutan Romawi makin bertambah ketika mengetahui Rasul saw. sendiri yang memimpin pasukan. Mereka lalu menarik mundur pasukannya dari Tabuk dan memasuki wilayah Syam untuk berlindung di dalam benteng mereka. Ketika Rasul saw. mengetahui hal ini, beliau terus bergerak menuju Tabuk, menguasainya, dan berkemah di sana. Beliau belum memandang perlu mengejar pasukan Romawi hingga memasuki wilayah Syam.

Beliau tinggal di Tabuk sekitar satu bulan sambil meladeni siapa saja yang ingin berperang untuk mengusir atau menyerang beliau dari kalangan penduduk daerah tersebut. Beliau juga menggunakan kesempatan untuk mengirim surat kepada para pemimpin beberapa kabilah dan negeri-negeri bawahan Romawi, seperti Yahnah bin Ru’bah penguasa Ailah, penduduk Jirba’, dan penduduk Adzrah. Beliau memberikan dua pilihan, yaitu mereka menyerah atau beliau memerangi mereka. Mereka menerima tawaran pertama, yaitu tunduk, bersedia taat, dan berdamai dengan Rasul saw., serta membayar jizyah.

Ibrah Politis Perang Tabuk

Kemudian, Rasul saw. kembali ke Madinah dan mendapati kaum munafik telah memanfaatkan kepergian beliau untuk menyebarkan racun kemunafikan guna memperdaya kaum muslim. Beliau pun mengambil sikap yang lebih keras terhadap kaum munafik. Namun, lebih dari itu, dengan adanya Perang Tabuk, sempurnalah ketetapan Allah Taala di seluruh Jazirah Arab. Berbagai suku Arab menyatakan ketaatan kepada Rasul saw. dan memeluk Islam karena Allah.

Perang Tabuk juga menjadi sarana bagi Nabi saw. untuk memantapkan politik luar negeri dengan mengamankan batas teritorial negara dan memunculkan rasa takut dalam benak musuh-musuh beliau. Penguasaan Negara Islam terhadap seluruh Jazirah Arab ini berhasil mengamankan daerah-daerah perbatasannya dari arah Romawi.

Sekalipun demikian, masih banyak kaum musyrik yang menyembah selain Allah dan belum meninggalkan kebiasaan mereka. Namun, Rasulullah saw. tidak membiarkan Baitullah al-Haram menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang saling bertentangan. Setelah turunnya QS At-Taubah kepada Nabi saw. seusai Perang Tabuk, beliau mengutus Ali bin Abi Thalib untuk berkhutbah di tengah rombongan haji di Mina serta membacakan QS At-Taubah ayat 1–36.

Selesai membaca ayat-ayat ini, Ali berseru dengan lantang, “Hai manusia! Sesungguhnya orang kafir tidak akan masuk surga dan orang musyrik tidak boleh berhaji serta tawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang setelah tahun ini. Siapa saja yang di sisi Rasul saw. ada perjanjian, maka perjanjian itu masih berlaku hingga jatuh tempo.” Ali menetapkan batas akhir empat bulan setelah hari itu. Wallahualam bissawab. [MNews/CJ]

Referensi:

– Kitab Daulah Islam, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani.

– Kitab Sirah Nabawiyah, Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw., Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ahji.


source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.

amaniyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan terkait

Trending News

Editor's Picks

Fatimah binti as-Samarqandi, Muslimah Ahli Ilmu Bermahar Kitab Al-Badai

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan...

HUKUM SHOLAT GHAIB

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya :Assalamu’alaikum ustadz. Ibu istri meninggal dunia dan sudah dimakamkan hari Kamis pekan yang lalu di Bengkulu . Mau tanya Ustadz, ini teman-teman istri mau mengadakan sholat ghaib di Jogja apakah diperbolehkan? Atau kalau tidak boleh apakah ada syariat ibadah lainnya, atau cukup kita mendoakan saja ? Syukron...

Green Talk, Dirty Work (Wajah Ganda Politik Iklim Barat)

Negara-negara Barat, yang dimotori oleh AS dan Uni Eropa, menyumbang mayoritas emisi gas rumah kaca historis. Amerika Serikat adalah kontributor emisi kumulatif terbesar sepanjang sejarah (sekitar 400 miliar ton sejak 1751; menyumbang 25% dari emisi historis). Jumlah ini sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Tiongkok yang mencapai 12,7%. Uni Eropa (EU-28) berada di...

Wanita dan Bencana

Monalisa (26) tak patah arang saat banjir mengepung rumahnya di Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Selasa (25/11/2025). Meski seorang diri dan dalam kondisi sedang mengandung, ia menghadapi derasnya air. Saat tiba di lokasi pengungsian, perjuangan Monalisa tidaklah berakhir. Dia harus segera beradaptasi dengan hiruk-pikuk pengungsian yang ramai, berbaur dan acapkali...

Kemarahan Ishmatuddin Khatun karena Kehilangan Wirid

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang dikenal dalam sejarah adalah Sayidah Ishmatuddin Khatun, istri Al-Malik ash-Shalih Nuruddin Mahmud Zanki. Ia dan ayahnya merupakan raja termasyhur yang memikul beban berat di pundaknya dalam melawan serangan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim. Wanita salihah tersebut berdiri di samping suaminya...

Wujudkkan Cita Umat

Artikel Pilihan

©2025- All Right Reserved.