Penulis: Wardah Abeedah
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Syawal acapkali dikaitkan dengan kemenangan. Kaum muslim di Indonesia memaknai kemenangan pada hari Idulfitri dengan keberhasilan meraih keutamaan Ramadan. Kita patut merenungi peristiwa agung kemenangan kaum muslim yang terjadi pada bulan Syawal.
Peristiwa tersebut diabadikan Al-Qur’an dalam surah Al-Ahzab yang memotret kukuhnya keimanan kaum muslim. Kekuatan iman melahirkan ketenangan di tengah ancaman besar dan memunculkan optimisme kemenangan di tengah kesulitan besar, yakni kepungan ahzab (pasukan bersekutu). Allah Taala berfirman, “Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.‘ Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka.‘” (QS Al-Ahzab: 22)
Perang Ahzab atau Khandaq disebut para ulama sebagai salah satu perang terberat yang dihadapi Nabi ﷺ. Pada Syawal tahun kelima Hijriah, Bani Nadhir yang terusir dari Madinah memprovokasi dan menggalang kekuatan kaum kafir. Huyai bin Akhthab mengajak kaum musyrik Quraisy, suku Ghathafan, Bani Fuzarah, Bani Asyja’, Bani Salim, Bani Sa’ad, Bani Asad, serta pihak-pihak lain yang menyimpan dendam terhadap kaum muslim untuk membentuk koalisi menyerang Rasulullah ﷺ. Mereka bersepakat bergabung dalam pasukan Ahzab dengan satu tujuan, yakni membumihanguskan Madinah dan menghabisi Nabi ﷺ. Tidak kurang dari 10.000 pasukan Ahzab bergerak menuju Madinah di bawah komando Abu Sufyan.
Strategi Cerdas Kaum Muslim
Kabar keberangkatan Pasukan Ahzab sampai kepada Nabi ﷺ. Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan tersebut, dibuatlah parit sebagai strategi pertahanan guna menghindari serbuan langsung dari pasukan Quraisy dan Bani Nadhir. Strategi ini merupakan usulan sahabat Rasulullah ﷺ, Salman al-Farisi, yang berasal dari Persia. Strategi tersebut belum pernah dikenal dalam tradisi peperangan Arab sebelumnya sehingga peristiwa ini dikenal sebagai Perang Khandaq (Perang Parit).
Parit digali dari Ajam Syaikhan hingga Mazad. Setiap sepuluh sahabat menggali sepanjang 40 hasta. Selain panjang, parit tersebut juga lebar dan dalam sehingga menyulitkan kuda untuk melompatinya. Jika kuda terjatuh ke dalamnya, sangat sulit untuk keluar. Nabi ﷺ turut serta menggali parit bersama para sahabat selama enam hari, bahkan dalam riwayat lain disebutkan hingga belasan hari.
Besarnya kekuatan musuh sempat membuat rasa takut menyusup ke hati sebagian kaum muslim. Allah Taala menggambarkan situasi tersebut dalam firman-Nya, “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS Al-Ahzab: 10).
Beratnya ujian saat itu membuat Mu’attib bin Qusyair berkata, “Muhammad menjanjikan kita akan menguasai kerajaan Kisra dan Kaisar, padahal hari ini salah seorang dari kita tidak merasa aman untuk pergi ke tempat buang air.” Aus bin Qaidhi pun meminta izin untuk meninggalkan Madinah dengan alasan rumahnya berada di luar kota. Kondisi mencekam itu menampakkan kemunafikan sebagian orang.
Optimisme Kemenangan
Keimanan membuat kaum muslim lebih yakin pada janji kemenangan yang disampaikan Rasulullah ﷺ daripada pada apa yang terlihat oleh mata. Inilah hakikat iman, yaitu mampu melihat melampaui apa yang terindra.
Sepuluh ribu pasukan bersenjata lengkap, kepungan ketat, kelaparan, kerasnya tanah saat menggali parit, hingga pengkhianatan Bani Quraizhah tidak mengikis keyakinan mereka terhadap pertolongan Allah dan kabar gembira dari Nabi ﷺ.
Al-Barra’ bin Malik berkata bahwa ketika para sahabat menggali parit dan terhalang tanah yang sangat keras, Nabi ﷺ mengambil cangkul dan menghantamnya seraya bertakbir,“Allah Maha Besar, aku diberi tanah Persia. Demi Allah saat ini pun aku bisa melihat Istana Madain yang bercat putih.” Kemudian, beliau menghantam untuk ketiga kalinya, dan berkata, “Bismillah … ” Lalu hancurlah tanah yang masih tersisa. Beliau kembali bertakbir, “Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a.”
Mendengar kabar tersebut, hati para sahabat menjadi tenang dan dipenuhi kegembiraan. Mukjizat juga terjadi, seperti kurma yang dibawa putri Basyir bin Sa’ad yang menjadi berlipat ganda dan kambing kecil yang dimasak istri Jabir bin Abdullah mencukupi untuk memberi makan seluruh pasukan muslim.
Datangnya Pertolongan Allah
Kemenangan selalu bersama dengan sababiyah. Nabi ﷺ membuat strategi cerdas menggali parit dan Allah mendatangkan Nu’aim bin Mas’ud yang masuk Islam tanpa masyarakat mengetahuinya. Ia menawarkan diri untuk menolong agama Allah Taala. Atas perintah Nabi ﷺ, ia mencerai-beraikan Yahudi Bani Quraizhah dengan kaum musyrik. Ia mengingatkan Bani Quraizhah agar tidak memulai perang melawan Muhammad sebelum kaum musyrik memberikan jaminan tidak akan meninggalkan mereka jika keadaan berbalik tidak sesuai harapan.
Ia juga mendatangi Quraisy dan mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesali pelanggaran perjanjian mereka dengan Muhammad. Bahkan, mereka siap melakukan apa pun demi mendapatkan kembali keridaan beliau, termasuk lebih mengutamakannya daripada para tokoh Quraisy yang bisa saja memenggal leher mereka atas pengkhianatan tersebut. Hal yang sama Nu’aim lakukan terhadap Ghathafan, sebagaimana yang telah dilakukannya kepada kaum Quraisy. Strategi cerdas ini kemudian berhasil mencerai-beraikan pasukan Ahzab. Terlebih saat Abu Sufyan mengirim surat kepada Bani Quraizhah untuk menyerang Nabi ﷺ pada hari Sabtu. Mereka menolak dengan alasan tidak bisa melanggar hari Sabtu.
Strategi cerdas ini diikuti oleh pertolongan Allah. Pada tengah malam, tiba-tiba Allah mengirimkan angin topan bercampur petir disertai hujan yang sangat lebat. Kemah-kemah mereka porak-poranda. Periuk dan perkakas dapur terbalik tumpang tindih. Ketakutan merasuki jiwa mereka. Mereka membayangkan bahwa kaum muslim pasti mengambil kesempatan ini untuk menyeberangi parit dan menyerang mereka. Abu Sufyan memimpin pasukan Quraisy untuk kembali ke Makkah. Begitu pun dengan Ghathafan dan pasukan Ahzab lainnya, mereka semua bergegas pulang.
Satu bulan dalam pengepungan pasukan Ahzab, kaum muslim diselamatkan oleh Allah Taala. Allah telah memenuhi janji-Nya kepada orang-orang yang beriman untuk memenangkan peperangan.
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ahzab: 9).
Inilah ujian iman. Kaum muslim menghadapinya dengan iman, doa, dan tawakal. Mereka yakin bahwa Allah Taala akan menolong siapa pun yang menolong agama-Nya. Mereka berjuang menyusun strategi sembari berhusnuzan kepada Allah. Doa yang masyhur diajarkan Nabi ﷺ ketika menghadapi musuh, “Ya Allah, Engkau yang menurunkan kitab, dan cepat dalam menghisab, hancurkanlah pasukan gabungan Ahzab! Ya Allah, hancurkanlah dan luluh-lantakkanlah mereka!” (HR Bukhari, No.4115, Fath Al-Bari, 7:406).
Begitu pula hari ini. Ketika kaum muslim di Gaza dikepung musuh beserta sekutunya melalui strategi BoP maupun pasukan IDF dan lainnya, serta ketika perjuangan kaum muslim untuk menegakkan hukum Allah diboikot melalui kekuatan politik oleh Barat dan sekutunya, pada akhirnya Allah pasti akan memenangkan dakwah. Kemenangan itu hadir melalui upaya dan strategi dakwah, disertai keimanan, doa, dan tawakal, sebagaimana janji-Nya.
“… Dan Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al Hajj: 40). Wallahualam. [MNews/CJ]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
