Penulis: Zulia Ilmawati
Muslimah News, FOKUS — Setiap 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Peringatan tahunan ini diinisiasi oleh lembaga kesehatan dunia World Federation of Mental Health (WFMH) pada 1992. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental di seluruh dunia.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini mengangkat tema “Mental Health at Work” atau “Kesehatan Mental di Tempat Kerja”. WHO juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyoroti hubungan penting antara kesehatan mental dan pekerjaan. Disebutkan, lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat berperan sebagai faktor pelindung bagi kesehatan mental. Namun, kondisi kerja yang buruk dapat membahayakan kesehatan mental, mengurangi kepuasan kerja, dan produktivitas
Meski setiap tahun diperingati, nyatanya masalah kesehatan mental tetap menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global. Angka bunuh diri remaja makin meningkat dan depresi menjadi faktor tertingginya. Menurut data WHO terhadap remaja 15—29 tahun, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua terbesar setelah kecelakaan. (Kumparan, Januari 2020). Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 80% kasus bunuh diri pemuda dan faktor terbesarnya adalah putus cinta, disusul faktor ekonomi, keluarga, dan lingkungan sekolah.
Sementara itu, pelayanan kesehatan mental juga masih memprihatinkan. Akses bantuan ke puskesmas terdekat bagi masyarakat terkadang masih sulit dan mahal di beberapa wilayah di Indonesia. Belum semua puskesmas di wilayah Indonesia pun memiliki pelayanan kesehatan mental karena minimnya SDM terlatih dan kompeten dalam kesehatan mental.
Apa Itu Sehat Mental?
Kesehatan mental dalam Ilmu psikologi dimaknai sebagai kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain.
Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, tetapi juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. Terdapat beberapa jenis masalah kesehatan mental dan tiga jenis kondisi yang paling umum terjadi, yaitu stres, kecemasan, dan depresi.
Faktor Penyebab
Penyebab masalah kesehatan mental sangat kompleks, multifaktor. Ada faktor internal individu dan faktor eksternal, dari luar individu. Faktor internal seperti genetik, cedera kepala yang cukup parah, hingga gangguan pada otak, pengaruh hormon, dan lain-lain. Faktor eksternal bisa dari keluarga seperti pola asuh dan “luka pengasuhan”.
Faktor sosiokultural seperti ekonomi, budaya, dan media sosial juga bisa menjadi salah satu sebab. Kebijakan yang ditetapkan oleh negara dalam hal pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain yang menyebabkan banyak masalah, seperti kenaikan bahan pokok, hilang dan sulitnya pekerjaan, biaya pendidikan yang tinggi, pengangguran, dan lain-lain.
Faktor sistem kehidupan yang mengatur kehidupan saat ini juga tidak bisa diabaikan, yaitu sistem sekuler kapitalisme yang gagal mengatur kehidupan. Alhasil, lahir manusia-manusia bermental rapuh. Sistem ini membuat banyak orang—termasuk kaum muslim—tidak memahami tujuan hidupnya.
Sistem kapitalisme berasas sekuler juga berhasil menggiring kaum muda khususnya untuk jauh dari pemahaman agama. Mereka cenderung berperilaku mengikuti hawa nafsunya, ingin bebas bersikap tanpa aturan. Akibat sistem rusak inilah, tidak heran jika produk yang dihasilkan pun rusak, salah satunya hadirnya generasi terganggu kesehatan mentalnya, berpenyakit mental.
Dalam masyarakat sekuler merasa bahwasanya tujuan hidup mereka hanyalah untuk mencari kesenangan dunia yang berstandar pada materi. Oleh karenanya, ketika materi yang berupa harta, jabatan, dan prestise tidak mampu mereka gapai, mereka akan merasa gagal dan akan disingkirkan dari hiruk pikuk kehidupan.
Oleh sebab itu, cepat atau lambat, banyak orang yang akan mengalami depresi dan putus asa. Begitu pula ketika mereka ditimpa ujian atau kesulitan hidup, mereka tidak mampu menanganinya dengan cara yang benar. Justru memilih jalan pintas, yaitu bunuh diri. Tidak heran, meski berpuluh-puluh tahun Hari Kesehatan Mental diperingati, isu kesehatan mental justru makin masif.
Seperti Apa Semestinya?
Setiap individu muslim semestinya memahami visi misi hidup, mengenali dan memahami peristiwa yang terjadi di luar dirinya dan yang menimpa dirinya baik/buruk, mengerti cara menyikapi peristiwa buruk yang terjadi di luar dirinya dan yang menimpa dirinya dengan sabar. Menjadikan ujian adalah bagian dari bentuk cintanya Allah pada hamba-Nya, dan jika sabar maka akan mendapatkan pahala.
Di sinilah pentingnya pendidikan dan pembinaan agar setiap muslim memiliki kepribadian Islam dan menjadikan Islam sebagai solusi bagi setiap persoalan. Landasan pendidikan yang harus dibangun dengan kukuh sedari dini adalah akidahnya. Adanya fondasi akidah yang kuat, akan menjadikan individu muslim memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Dari pola pikir dan pola sikap yang islami ini akan melahirkan sosok muslim yang tangguh dan cerdas serta ber-akhlakul karimah.
Keluarga memiliki peranan sangat penting dalam membentuk anak memiliki mental yang kuat. Keluarga semestinya menjadi tempat anak-anak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang, kenyamanan, keamanan, ketenteraman, dan sebagainya. Selain itu, negara juga memiliki peranan penting dalam kepengurusan kehidupan bermasyarakat agar manusia bisa menjalankan peran serta fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
Negara juga sebagai pelindung keamanan warganya, dengan menciptakan lingkungan mental yang sehat, memberikan pemahaman dan pemikiran tentang sikap mental yang sehat, menyelenggarakan pendidikan yang baik yang bisa memunculkan kesehatan mental, membiayai program-program rehabilitasi mental. Seperti yang pernah ada di masa peradaban Islam.
Kesehatan mental dalam sejarah peradaban Islam menjadi perhatian negara. Ilmuwan muslim era Abbasiyah banyak yang mengkaji persoalan ini. Bahkan, Dinasti Abbasiyah mendirikan rumah sakit yang dilengkapi bangsal kejiwaan pada 705 M. Dinasti Abbasiyah melakukan berbagai hal untuk menangani masalah Kesehatan mental. Salah satunya dengan mendirikan rumah sakit dan bangsal khusus bagi penyakit jiwa di Baghdad.
Penutup
Islam adalah sistem hidup, aturan yang menyelesaikan masalah dari mulai pencegahan hingga penyembuhan. Islamlah satu-satunya agama dan sistem kehidupan yang lurus sesuai fitrah penciptaan, menyejahterakan, dan mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.
Dalam kehidupan Islam, anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang berbasis akidah Islam yang mampu mencetak orang-orang bermental kuat. Oleh karena tujuan pendidikan dalam sistem Islam adalah membentuk kepribadian Islam (syakhsiah islamiah), sekaligus memiliki keterampilan menyelesaikan problem kehidupan.
Semua akan terwujud dengan melanjutkan kembali kehidupan Islam yang pernah ada dengan jalan mendakwahkannya kepada umat dan memperjuangkannya, hingga dapat tegak kembali sebagaimana dahulu Rasulullah saw. menegakkannya di Madinah. Wallahualam. [MNews/WAG]
