Muslimah News, NAFSIYAH — Setiap insan yang bernyawa pasti pernah merasakan kesedihan. Namun, ketika sedih dan putus asa melanda, kita harus mengingat kembali cita-cita besar yang mungkin sedikit terlupakan. Cita-cita besar yang selalu kita sebutkan dalam doa, yakni kembalinya kemuliaan Islam di muka bumi.
Kita pun pasti memiliki cita-cita untuk kehidupan pribadi. Oleh karenanya, kita pun memohon agar Allah Swt. mengabulkannya. Saat doa yang kita panjatkan belum dikabulkan, mungkin Allah telah mengabulkan doa yang lain. Ini karena Allah Maha Pengabul doa.
Ada doa indah yang pernah Nabi saw. lafazkan, “Tidaklah seorang hamba tertimpa kesedihan dan kegundahan, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku, serta pelenyap bagi kegelisahanku.’ Maka, Allah akan menghilangkan kegundakan dan kesedihannya, serta menggantikannya dengan kebahagiaan.” (HR Ahmad).
Allah Swt. menjadikan Al-Qur’an sebagai kebahagiaan dalam hati dan pelapang dada. Kedua hal tersebut akan mengangkat kesedihan dan hilanglah keresahan (lihat Hisnul Muslim, hlm. 211).
Para penyeru kebaikan terkadang hatinya juga bisa “patah”, lalu bersedih atas berbagai ujian yang datang menghampiri. Islam menuntun seorang muslim untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai tambatan hati yang dapat mengobati rasa sedih atau luka di hati.
Sungguh, kehidupan ini tidak selamanya indah. Dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah Swt. berfirman, “Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS Al-Anbiya: 35).
Para Sahabat ra. Pernah Dirundung Kesedihan
Suka dan duka ialah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang atau sebaliknya terus dalam duka dan kesedihan. Generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi saw. pun pernah dirundung kesedihan.
Allah Swt. mengabarkan dalam Al-Qur’an, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran: 140).
Sesungguhnya, Allah Swt. menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar mausia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Kemudian, kesedihan diciptakan agar manusia tunduk bersimpuh, mengadu, berharap, merendah, dan merengek di hadapan-Nya. Dengan demikian, manusia tidak akan menyombongkan diri.
Seperti yang dilakukan Nabi Yaqub saat lama berpisah dengan putranya, Yusuf as. yang dinyatakan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya hanya kepada Allah, aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86). Juga dalam surah lainnya, “Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.” (QS An-Najm: 43).
Jika kita sedih karena menyesali kemaksiatan yang dilakukan dan segera bertobat untuk memperbaikinya, itu adalah tanda iman. Nabi saw. bersabda, “Barang siapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman.” (HR Tirmidzi).
Kesedihan yang Tercela
Kesedihan yang tercela ialah saat seseorang larut dalam kesedihannya sehingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, dan rasa optimis pun hilang. Kesedihan seperti ini menghancurkan harapan. Akibatnya, ia tidak mau bergerak dan tidak berupaya mengubah keadaannya agar menjadi manusia yang bahagia.
Kesedihan yang tercela ialah yang membuat seseorang lemah untuk meraih rida Allah Taala. Bahkan, ia menjadi putus ada dan membenci takdir Allah. Betapa banyak orang yang tergelincir dari jalan Allah Swt. karena larut dalam kesedihan. Setan pun senang melihat seorang mukmin bersedih.
Firman Allah Taala, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikit pun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (QS Al Mujadilah: 10).
Allah Swt. juga berfirman, “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 139).
Saudariku, usirlah kesedihan dari hatimu. Jangan biarkan setan memanfaatkannya karena ia selalu mengintai setiap gerak-gerik kita. Sabda Nabi saw., “Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam setiap keadaan kalian. Sampai setan ikut hadir di makanan kalian.” (HR Muslim).
Berbahagialah karena kita muslim dan Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk masuk ke surga. Tentu bagi mereka yang taat pada syariat dan turut memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam. Masyaallah. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
