Wujudkan Cita Umat

NE

News Elementor

What's Hot

[Kisah Ramadan] Wafatnya Khalid bin Walid, Si “Pedang Allah yang Terhunus”

Table of Content

Penulis: Retno Sukmaningrum, S.T., M.T.

Muslimah News, KISAH RAMADAN — Siapa yang tidak kenal Khalid bin Walid, panglima Islam yang tersohor? Di bawah kepemimpinannya, tidak ada satu pun peperangan kaum muslim kalah oleh kaum kafir. Keberanian, kepemimpinan, dan keahliannya mengatur strategi dalam berperang mengantarkan Khalid mendapatkan julukan sebagai “Pedang Allah yang Terhunus”.

Keandalan Khalid dalam memimpin peperangan telah tampak sebelum masuk Islam. Kita tentunya ingat peristiwa Perang Uhud (625 M). Pada pertempuran di Bukit Uhud itu, awalnya kaum muslim sudah meraih kemenangan, namun semuanya menjadi berbalik arah akibat pasukan pemanah tidak mengindahkan perintah Rasulullah saw.

Pasukan pemanah keluar dari posisi mereka dengan menuruni bukit. Khalid  yang memimpin pasukan berkuda Quraisy dengan jeli melihat celah kosong pertahanan tersebut sehingga ia mengambil jalan memutar dan menyerang pasukan muslim dari belakang. Serangan mendadak ini mengepung pasukan muslim dari dua arah serta menyebabkan kekacauan dan banyak korban di pihak kaum muslim.

Perang Mu’tah

Pada saat peristiwa Perang Mu’tah, Khalid belum lama masuk Islam. Di dalam pasukan Mu’tah, Khalid semula tidak ditunjuk sebagai panglima perang, tetapi pada akhirnya menggantikan posisi ketiga panglima yang gugur beruntun. Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengabarkan kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah sebelum berita kematian mereka sampai ke Madinah. “Panji telah diambil oleh Zaid, dan ia gugur sebagai syahid. Kemudian panji dipegang oleh Ja’far, dan ia pun gugur sebagai syahid. Setelah itu diambil oleh Ibnu Rawahah, dan ia juga gugur sebagai syahid…” (HR Bukhari).

Setelah gugurnya tiga panglima awal, Khalid mengambil alih komando, menenangkan pasukan, dan menyusun kembali barisan yang porak-poranda. Khalid memerintahkan pasukan di barisan belakang pindah ke depan, dan sayap kiri ke kanan (atau sebaliknya) secara terus-menerus.

Ia juga memerintahkan pasukan menyeret pelepah kurma di atas pasir di belakang kuda untuk menimbulkan debu tebal dan menciptakan kesan seolah-olah ada tambahan bala bantuan besar dari Madinah. Dengan taktik tersebut, pasukan Romawi terkejut melihat wajah-wajah baru dan mengira kekuatan pasukan muslim bertambah. Hal ini membuat semangat mereka jatuh dan tidak berani gegabah menyerang.

Dengan jumlah pasukan yang sangat tidak berimbang dan waktu tidak memungkinkan untuk meminta bantuan ke Madinah, Khalid pun memutuskan mundur secara teratur dalam formasi tempur, bukan melarikan diri. Mundur adalah langkah cerdik untuk menghindari kehancuran total, dan strategi itu terbukti berhasil karena Romawi takut mengejar, bahkan mengira itu adalah jebakan.

Perlu diketahui, Perang Mu’tah merupakan pertempuran pertama melawan Kekaisaran Romawi yang sangat besar. Pasukan muslim berjumlah 3.000 orang menghadapi 100.000—200.000 tentara Romawi. Khalid bin Walid mengambil alih komando dan memutuskan untuk mundur guna menyelamatkan pasukan agar tidak musnah, sebuah keputusan strategis yang saat itu belum dipahami oleh sebagian penduduk Madinah. Rasulullah saw bukan menyebut pasukan yang dipimpin Khalid sebagai pasukan pengecut (al-furrar), namun sebaliknya dijuluki dengan pasukan yang akan kembali berperang (al-kurrar).

Berjuang demi Rida Allah

Setelah Khalid bin Walid masuk Islam, lebih dari 100 pertempuran dipimpinnya dan tidak ada satu pun yang terkalahkan. Sampai-sampai muncul di benak kaum muslim, jika pasukan dipimpin Khalid diyakini pasti menang. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab sehingga Khalid bin Walid dicopot dari posisi panglima perang. Bukan karena Khalid yang salah, namun Umar mengkhawatirkan kaum muslim akan mendewakan atau terlalu bergantung pada kehebatan Khalid daripada bertawakal kepada Allah Swt.

Setelah dicopot dari posisi panglima, Khalid tetap menunjukkan militansi dan kesungguhannya dalam berjuang. Meski menjadi tentara biasa, Khalid masih tegak berdiri di barisan kaum muslim. Ia turut dalam berbagai pertempuran berikutnya dan menjadi saksi kemenangan-kemenangan Islam di wilayah Syam, termasuk dalam pengepungan Damaskus.

Empat tahun setelah pencopotannya, Khalid bin Walid jatuh sakit hingga mengantarkan pada kematiannya. Khalid wafat pada bulan Ramadan 21 H (sekitar 642 M) di Homs, Syam (sekarang Suriah). Keinginan besar Khalid untuk syahid di jalan Allah tidak terwujud, meski seluruh tubuhnya pernah tertoreh luka sebagai saksi keikutsertaannya dalam ratusan pertempuran membela Islam.

Dari Khalid kita belajar tentang keikhlasan, bahwa berjuang bukanlah karena jabatan dan kedudukan, namun demi keridaan Allah semata-mata. Di situlah tampak kematangan kepribadian Islam dan integritas seorang pemimpin.

Dari Khalid pula kita belajar, bahwa tidak ada satu pun manusia yang tahu ujung kematiannya. Seorang panglima perang pun belum tentu ujung kematiannya syahid sebagaimana harapannya. Namun, seluruh luka di tubuh beserta sepak terjangnya di medan jihad, menjadi saksi bahwa hidup Khalid telah dicurahkan dalam membela agama Allah. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah amal hidup selama ini cukup menjadi hujah kita kelak di hadapan Allah? Wallahualam bissawab. [MNews/NA]


source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.

amaniyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan terkait

Trending News

Editor's Picks

Fatimah binti as-Samarqandi, Muslimah Ahli Ilmu Bermahar Kitab Al-Badai

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan...

HUKUM SHOLAT GHAIB

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya :Assalamu’alaikum ustadz. Ibu istri meninggal dunia dan sudah dimakamkan hari Kamis pekan yang lalu di Bengkulu . Mau tanya Ustadz, ini teman-teman istri mau mengadakan sholat ghaib di Jogja apakah diperbolehkan? Atau kalau tidak boleh apakah ada syariat ibadah lainnya, atau cukup kita mendoakan saja ? Syukron...

Green Talk, Dirty Work (Wajah Ganda Politik Iklim Barat)

Negara-negara Barat, yang dimotori oleh AS dan Uni Eropa, menyumbang mayoritas emisi gas rumah kaca historis. Amerika Serikat adalah kontributor emisi kumulatif terbesar sepanjang sejarah (sekitar 400 miliar ton sejak 1751; menyumbang 25% dari emisi historis). Jumlah ini sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Tiongkok yang mencapai 12,7%. Uni Eropa (EU-28) berada di...

Wanita dan Bencana

Monalisa (26) tak patah arang saat banjir mengepung rumahnya di Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Selasa (25/11/2025). Meski seorang diri dan dalam kondisi sedang mengandung, ia menghadapi derasnya air. Saat tiba di lokasi pengungsian, perjuangan Monalisa tidaklah berakhir. Dia harus segera beradaptasi dengan hiruk-pikuk pengungsian yang ramai, berbaur dan acapkali...

Kemarahan Ishmatuddin Khatun karena Kehilangan Wirid

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang dikenal dalam sejarah adalah Sayidah Ishmatuddin Khatun, istri Al-Malik ash-Shalih Nuruddin Mahmud Zanki. Ia dan ayahnya merupakan raja termasyhur yang memikul beban berat di pundaknya dalam melawan serangan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim. Wanita salihah tersebut berdiri di samping suaminya...

Wujudkkan Cita Umat

Artikel Pilihan

©2025- All Right Reserved.