Penulis: Iin Eka Setiawati
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Penaklukan pulau Rhodes terjadi pada bulan Ramadhan 53 H (sekitar 673 M). Ini merupakan salah satu pencapaian strategis armada laut muslim pada masa Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, seorang khalifah yang menyadari betapa pentingnya kekuatan armada laut bagi keamanan wilayah Khilafah Islamiah.
Penaklukan pulau Rhodes merupakan bukti keberhasilan strategi maritim yang beliau kembangkan untuk menghadapi dominasi Kekaisaran Romawi. Rhodes adalah sebuah pulau strategis di Laut Mediterania yang berfungsi sebagai benteng pertahanan laut yang sangat kuat bagi musuh. Keberhasilan pasukan muslim menaklukkan pulau ini mengubah peta kekuatan politik dan militer di kawasan perairan Mediterania secara drastis.
Muawiyah Membangun Armada Laut
Pembangunan armada laut sebenarnya telah dirintis Muawiyah bin Abu Sufyan sejak menjabat sebagai wali di Syam pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Beliau melihat bahwa ancaman serangan dari arah laut oleh pasukan Romawi terus mengganggu negeri-negeri muslim terutama di kawasan perbatasan.
Muawiyah berulang kali meyakinkan khalifah agar memberikan izin pembangunan armada laut berupa kapal-kapal perang untuk melindungi kedaulatan wilayah umat Islam secara total. Setelah mendapatkan izin resmi, beliau segera membangun galangan kapal di berbagai pelabuhan utama, seperti Akka dan Alexandria. Ini merupakan titik awal bagi umat Islam untuk bertransformasi menjadi kekuatan maritim yang sangat disegani dunia.
Pembangunan armada laut membutuhkan SDM yang andal dalam navigasi serta konstruksi kapal laut yang presisi. Hal ini diawali dengan perekrutan para ahli perkapalan lokal yang telah memiliki banyak pengalaman dalam mengarungi ganasnya ombak Laut Tengah. Kemudian melatih para tentara darat agar mampu bertempur dengan tangguh di atas geladak kapal perang yang bergerak.
Visi besar ini bertujuan untuk mematahkan hegemoni Romawi yang selama ini menguasai jalur perdagangan dan militer Laut Mediterania. Tanpa armada laut yang kuat, ekspansi Islam akan selalu terhambat oleh serangan balik musuh dari arah garis pantai.
Ekspedisi Penaklukan Pulau Rhodes
Ketika Muawiyah menjadi khalifah, pada 53 H beliau mengirimkan ekspedisi militer besar. Beliau menunjuk Junadah bin Abu Umayyah sebagai panglima untuk memimpin ekspedisi menuju pulau Rhodes. Pasukan muslim pun bergerak dengan ratusan kapal perang yang membawa para tentara untuk melakukan pendaratan di pantai pulau tersebut.
Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Islam melawan tentara Romawi yang berusaha mempertahankan wilayah kedaulatan mereka dengan segala kekuatan. Junadah bin Abu Umayyah menunjukkan kecemerlangan taktik tempur dalam mengoordinasikan serangan dari arah laut menuju daratan yang penuh rintangan.
Ibnu Katsir menjelaskan di dalam kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, bahwa penaklukan ini berlangsung melalui sebuah konfrontasi militer yang sangat serius dan terencana dengan matang. Pasukan muslim berhasil meruntuhkan pertahanan musuh dan menguasai seluruh wilayah pulau tersebut setelah pertempuran yang sangat melelahkan jiwa.
Muawiyah segera memerintahkan pembangunan pemukiman bagi kaum muslim agar keberadaan mereka di pulau Rhodes bersifat permanen dan kukuh. Hal ini bertujuan untuk menjadikan pulau Rhodes sebagai pangkalan militer garis depan dalam menghadapi serangan Romawi ke wilayah Syam.
Peleburan Sisa Patung Raksasa Colossus
Dalam buku Historians’ History of the World, vol. VIII halaman 159, yang dikutip oleh Joesoef Sou’yb dalam buku Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus, dituliskan tentang hasil penaklukan armada Islam terhadap pulau Rhodes. Salah satu fakta unik dari penaklukan pulau Rhodes adalah penemuan sisa-sisa patung perunggu raksasa yang sangat legendaris bernama Colossus.
Patung perunggu tersebut merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno yang telah runtuh akibat gempa bumi besar. Selama berabad-abad, reruntuhan logam tersebut tergeletak begitu saja di pelabuhan tanpa ada yang berani memindahkan atau memanfaatkannya kembali.
Pasukan muslim menemukan sisa-sisa perunggu tersebut saat mereka melakukan pembersihan dan penataan ulang infrastruktur kota yang telah mereka kuasai. Junadah bin Abu Umayyah kemudian memutuskan untuk mengumpulkan seluruh kepingan logam tersebut untuk diproses kembali menjadi barang yang bermanfaat.
Muawiyah sebagai khalifah memberikan instruksi agar sisa logam perunggu tersebut dijual kepada saudagar Yahudi dari wilayah Edessa yang konon mengangkutnya dengan 900 ekor unta, yang tidak hanya mengangkut patung Colossus, tetapi juga 100 buah patung raksasa lain dan 3.000 ribu patung hiasan.
Tindakan ini mencerminkan sikap taktis dan bijaksana para pemimpin muslim dalam mengelola peninggalan sejarah yang sudah tidak berfungsi lagi. Peleburan patung-patung itu pun sejalan dengan keyakinan umat Islam.
Pulau Rhodes kemudian bertransformasi menjadi pusat pemukiman muslim yang makmur di tengah perairan Laut Mediterania yang sangat luas. Kehadiran komunitas muslim di pulau ini memberikan kontribusi besar bagi penyebaran dakwah Islam melalui jalur perdagangan laut.
Dampak Strategis bagi Khilafah Islamiah
Penaklukan pulau Rhodes memberikan dampak strategis yang sangat besar bagi keamanan Kekhalifahan Umayyah. Pulau ini berfungsi sebagai mata-mata yang mengawasi setiap pergerakan armada laut Romawi yang keluar dari pelabuhan Konstantinopel menuju selatan.
Keberhasilan ini membuka jalan bagi ekspedisi militer Islam selanjutnya menuju pulau-pulau lain di wilayah Laut Mediterania. Para pedagang muslim merasa lebih aman saat melintasi jalur laut tersebut karena perlindungan armada perang Islam semakin kuat.
Rhodes menjadi simbol kebangkitan teknologi maritim umat Islam yang mampu menandingi kemajuan peradaban bangsa-bangsa Barat saat itu. Keberhasilan ini juga membuktikan bahwa umat Islam memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap medan pertempuran yang baru dan asing.
Muawiyah bin Abu Sufyan telah meletakkan fondasi yang kukuh bagi sejarah angkatan laut Islam yang gemilang di masa depan. Demikian halnya, semangat perjuangan Junadah bin Abu Umayyah memberikan inspirasi bagi generasi pelaut muslim berikutnya untuk terus menjaga kedaulatan perairan.
Penaklukan pulau Rhodes menjadi catatan emas yang sangat membanggakan. Umat Islam menunjukkan bahwa mereka mampu menguasai daratan maupun lautan dengan nilai-nilai keadilan dan juga integritas yang tinggi. [MNews/NA]
Daftar Pustaka
1. Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulat Umayyah I di Damaskus. 1977. Bulan Bintang. Jakarta.
2. Maksudoglu, Mehmet Prof. Dr. The Untold History of Ottoman. 2023. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta.
3. Beik, Syekh Muhammad Khudhari. Ad-Daulatu al-Umawiyatu (Edisi Bahasa Indonesia). 1998. Pustaka Thariqul Izzah.
4. Katsir, Ibnu. Al-Bidayah wa An-Nihayah (Terjemahan). 2008. Pustaka Azzam.
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
