Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Saat pulang dari masjid ke rumahnya, Abu Muslim al-Khaulani biasa mengucap takbir di depan pintu rumahnya. Kemudian istrinya juga menyambutnya dengan kalimat takbir. Suatu hari, Abu Muslim pulang dari masjid dan bertakbir seperti biasanya di depan rumahnya. Namun, tidak ada yang menyambut takbirnya. Ketika ia berada di ruang tengah rumahnya, ia kembali bertakbir, tetapi tidak ada yang menyahut. Demikian pula saat ia masuk rumah, biasanya istrinya yang mengambil surban dan alas kakinya, lalu menyediakan makanan untuknya.
Ia pun masuk kamar, tetapi gelap. Saat itu, ia mendapati istrinya sedang duduk termenung melihat ke tanah sambil memegang tongkat. Abu Muslim pun bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Istrinya menjawab, “Engkau mempunyai kedudukan di hadapan Muawiyah dan kita tidak memiliki pembantu. Kalau engkau meminta kepadanya, niscaya ia akan memberikan pembantu untuk kita.”
Abu Muslim menjawab, “Ya Allah, buatlah buta mata orang yang merusak keluargaku.” Sebelumnya, telah datang seorang perempuan ke rumahnya. Perempuan itu berkata kepada istrinya, “Suamimu mempunyai kedudukan di mata Muawiyah. Sebaiknya engkau katakan kepada suamimu agar ia meminta kepada Muawiyah agar diberikan pembantu yang membantu pekerjaanmu di rumah. Niscaya ia akan memberikannya dan kalian hidup lebih nyaman.”
Ketika perempuan itu sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba ia merasakan matanya gelap. Ia berkata, “Mengapa lampu rumah kalian dipadamkan?” Orang-orang berkata perempuan itu pun menyadari kesalahannya. Ia segera mendatangi Abu Muslim sambil menangis dan meminta mendoakannya agar Allah mengembalikan penglihatannya. Mendengar permintaan tersebut, Abu Muslim merasa iba. Ia pun berdoa kepada Allah agar penglihatan perempuan tersebut kembali seperti semula. Allah mengabulkan doa Abu Muslim sehingga penglihatan perempuan tersebut kembali seperti sedia kala. (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah)
Hikmah
Kisah tersebut memberikan hikmah yang luar biasa bagi kita, yakni pentingnya menjaga lisan. Lisan ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan untuk menebarkan kebaikan, seperti menyampaikan ilmu, berdakwah, menasihati dalam kebaikan, akan menjadi kebaikan bagi pendengar atau orang-orang di sekitarnya. Namun, jika digunakan untuk melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti memfitnah, bergosip, dan menyebarkan ujaran kebencian, akan mengantarkan kepada dosa besar.
Allah Swt. mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam berbicara karena setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan. Allah Swt. berfirman, “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18).
Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya menjaga lisan. Beliau ﷺ bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lisan juga yang membuat pikiran seseorang bisa berubah. Seperti halnya perempuan yang memengaruhi pemikiran istri Abu Muslim yang semula baik-baik saja dengan kehidupan sederhana, tiba-tiba rasa syukurnya berkurang dengan permintaan yang ia ajukan kepada suaminya. Dari satu lisan dan satu kalimat, seseorang bisa dihinggapi rasa tidak puas atas nikmat Allah Taala.
Hari ini betapa banyak konten di media sosial yang menjerumuskan kehidupan rumah tangga harmonis. Ada yang terbawa perasaan karena terlalu sering menonton nikmat orang lain. Tanpa mempertimbangkan kemampuan nafkah suami, si istri meminta berbagai hal sebagaimana standar hidup yang dijejali dalam konten tersebut. Rasa syukur berkurang, keharmonisan hilang, dan akhirnya memicu pertengkaran.
Inilah sebabnya sebagai seorang muslim kita membutuhkan iman sekaligus ilmu untuk menjaga pemikiran dan perasaan kita agar tetap berada di jalur yang benar, yaitu mengikuti standar Allah Taala dalam menjalani roda kehidupan, bukan standar manusia yang berubah-ubah. Semoga kisah tersebut memberi pelajaran berharga untuk kita semua. [MNews/CJ-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
