Penulis: Rif’ah Kholidah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang dikenal dalam sejarah adalah Sayidah Ishmatuddin Khatun, istri Al-Malik ash-Shalih Nuruddin Mahmud Zanki. Ia dan ayahnya merupakan raja termasyhur yang memikul beban berat di pundaknya dalam melawan serangan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim. Wanita salihah tersebut berdiri di samping suaminya untuk membantunya menghadapi musuh-musuh Islam. Ia pun selalu menghidupkan malam dengan qiamulail. Ibnu Katsir ra. berkata, “Ia adalah wanita yang banyak melakukan qiamulail pada malam hari.”
Pada suatu malam, ia tertidur dan melewatkan wiridnya sehingga ia pun bangun pada pagi hari dengan kondisi marah. Nuruddin pun bertanya kepadanya tentang tidurnya yang menjadikan ia melewatkan wiridnya. Kemudian Nuruddin memerintahkan seseorang agar memukul thablakhanah (sejenis gong) di dalam benteng pada waktu sahur agar orang- orang yang tertidur dapat bangun untuk melaksanakan qiamulail. Ia pun memberikan upah yang sangat besar bagi orang yang memukul thablakhanah. (Al-Bidayah wa An- Nihayah 12/317).
Ishmatuddin adalah wanita yang selalu rindu untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Ia selalu menghidupkan malamnya dengan qiamulail hingga rela meninggalkan kenikmatan tidurnya. Ini sebagaimana firman Allah Swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam, mereka selalu memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat: 17–18).
Dari sekelumit kisah Ishmatuddin Khatun, kita dapat memetik beberapa hikmah. Pertama, Ishmatuddin Khatun mengajarkan kepada kita bahwa posisi sebagai seorang istri khalifah tidak menjadikan hidupnya terlena dengan gemerlapnya dunia. Akan tetapi, ia senantiasa menjadi pendamping suaminya yang memikul tugas berat agar suaminya mampu menaklukkan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim. Ia menyibukkan waktu malamnya untuk bermunajat dan berdoa kepada Allah Taala. Ia berharap Allah akan memberikan pertolongan kepada suaminya agar bisa menaklukkan musuh-musuh Allah.
Hal ini sangat berbeda dengan kehidupan dalam sistem sekuler kapitalisme hari ini. Banyak istri pejabat yang memamerkan gaya hidup mewah, pelesiran ke luar negeri, dan gemar flexing di tengah kondisi kehidupan rakyat yang makin menderita.
Kedua, Ishmatuddin Khatun mengajarkan kepada kita untuk rela meninggalkan kenikmatan tidurnya (kenikmatan duniawi) demi menghidupkan qiamulail dan bermunajat kepada Allah Taala. Sungguh, kebahagian dan ketenangan hidup seorang hamba di antaranya karena kedekatan kepada Rabb-Nya, bukan semata karena tercapainya kebutuhan jasadi.
Ketiga, Ishmatuddin Khatun meletakkan kemarahannya bukan karena kehilangan harta benda atau materi yang bersifat duniawi, tetapi karena kehilangan kesempatan berharga untuk bisa menghidupkan qiamulail dan bermunajat kepada Allah. Ini karena bisa jadi malam tersebut adalah malam terakhir untuk bermunajat kepada Rabb-Nya. Sesungguhnya kita tidak mengetahui kapan Allah akan mencabut ajal kita.
Tentu kondisi ini berbeda dengan kehidupan dalam sistem sekuler kapitalisme. Kebanyakan orang kini melampiaskan kemarahannya karena kehilangan harta benda atau kesenangan duniawinya.
Keempat, untuk memastikan agar kaum muslim mudah dalam melaksanakan qiamulail dan bermunajat kepada Allah, Nuruddin Mahmud Zanki, suami Ishmatuddin Khatun sekaligus sebagai penguasa, ia bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Ia membuat kebijakan mengangkat pegawai pemukul gong dengan gaji yang besar.
Inilah gambaran penguasa sebagai Khadimul Ummah (pelayan ummat) yang senantiasa mengurusi kemaslahatan umat. Ini dilakukan agar umat terpenuhi hak-haknya sehingga bisa menggunakan waktu malamnya untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Sayang, gambaran penguasa seperti ini tidak kita jumpai dalam sistem sekuler kapitalisme kini. [MNews/YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
