Penulis: Ustazah Iffah Ainur Rochmah
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Saat berkunjung ke Kairo Mesir pada akhir 2013 saya menyaksikan sebuah sebuah masyarakat yang mengistimewakan ahli ilmu. Selain di kompleks Al-Azhar asy-Syarifah, saat mengunjungi makam dan masjid Imam Syafi’i, kesan yang sama makin kuat. Bukan baru terlihat saat ini, pada 193 H Mesir sudah menyambut suka cita kedatangan Sayyidah Nafisah, bahkan mencegah beliau kembali ke Hijaz.
Sayang, kunjungan saya ke Mesir saat itu belum sempat berziarah ke masjid dan makam Sayyidah Nafisah. Padahal, ada hubungan erat antara Imam Syafi’i dengan tokoh muslimah ini. Sayyidah Nafisah tidak mencukupkan punya ilmu, tapi juga ahli takarub dan gemar muhasabah.
Masjid Sayyidah Nafisah terletak di distrik Khalifah, Kairo lama. Di jalan Al-Asyraf terdapat makam-makam para ahlul bait di antaranya adalah Sayyidah Nafisah, cicit baginda Nabi saw. Setelah renovasi pada 2023, masjid Sayyidah Nafisah banyak dikunjungi umat dan mudah-mudahan makin membuka pintu mengambil keteladanan dari sosok beliau.
Gudang Ilmu, Kiblat Masyayikh
Beliau adalah Nafisah binti Hasan al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, lahir di Makkah pada Rabiulawal 145 H. Selain nasab mulia beliau sebagai dzurriyah Baginda saw., Sayyidah Nafisah telah menampakkan cinta ilmu dan sangat dekat dengan Al-Qur’an sejak belia. Saat berusia 5 tahun keluarga beliau pindah ke kota Madinah al-Munawarah.
Ayah beliau Hasan al-Anwar, imam besar ahli ilmu yang mengajarkan sendiri ilmu-ilmu agama dan hafalan Al-Qur’an kepada beliau. Talaki hadis dan sirah juga dilakukannya kepada ayah beliau. Selain ini, Sayyidah Nafisah juga mengkaji ilmu fikih dan hadis dari para masyayikh Masjid Nabawi di sisi Raudah asy-Syarifah.
Beliau sering hadir di majelisnya Imam Malik, bahkan dianggap salah satu penjaga fikihnya Imam Malik. Saat beliau masih remaja, sudah banyak yang menjulukinya sebagai “Nafisah al-Ilmi” yang bermakna permatanya ilmu.
Sayyidah Nafisah hidup sezaman dengan Imam Syafi’i. Beliau masuk ke Mesir pada bulan Ramadan 193 H. Sedangkan, Imam Syafi’i datang ke Mesir pada 199 H. Imam Syafi’i berulang kali mengunjungi Sayyidah Nafisah. Beliau mendengarkan hadis-hadis yang dibacakan oleh Sayyidah Nafisah.
Imam Syafi’i biasa mengunjungi Sayyidah Nafisah dalam perjalanan menuju Masjid Fusthat. Rumah Sayyidah Nafisah beliau sebut sebagai tempat belajar, sedangkan Masjid Fusthat adalah majelis tempat Imam Syafi’i mengajar ilmu kepada masyarakat.
Banyak yang mengisahkan betapa tinggi penghormatan Imam Syafi’i terhadap keluasan ilmu Sayyidah Nafisah. Selain itu, para ulama besar seperti Bisyir bin Al-Harits juga banyak menimba ilmu dari beliau. Bahkan, karena begitu masyhur ketakwaan dan tingginya ilmu beliau, membuat Imam Ahmad bin Hanbal juga meminta Sayyidah Nafisah mendoakan ampunan Allah bagi dirinya. Karena itulah Sayyidah Nafisah dikenal sebagai kiblat masyayikh.
Ahli Ibadah dan Riayah
Luar biasa, Sayyidah Nafisah adalah sosok istimewa yang patut kita sorot sisi pribadinya sebagai teladan. Dikisahkan oleh Zainab binti Yahya, keponakan yang mendampingi dan melayani beliau selama 40 tahun bahwa Sayyidah Nafisah menghabiskan malam hari untuk beribadah dan siang hari untuk berpuasa.
Saking banyak waktu puasanya, hampir-hampir tidak ada hari tanpa puasa kecuali pada dua hari raya dan Hari Tasyrik. Ibadah beliau yang juga Istimewa adalah banyaknya beliau membaca Al-Qur’an hingga khatam ribuan kali sebelum beliau wafat. Diceritakan pula bahwa beliau banyak menafsirkan ayat dan menangis saat membaca Al-Qur’an.
Saat Zainab menanyakan mengapa begitu berat dan keras kepada diri sendiri dalam beribadah, beliau menjawab mantap, “Bagaimana bisa aku bersantai dan meringankan diriku dalam beribadah, sedangkan di hadapanku ada banyak tantangan kehidupan? Tidak ada yang memastikan kesudahan di masa depan (surga atau neraka).”
Begitulah kegigihan seorang muslimah teladan yang tidak mencukupkan diri meraih rida Allah dengan memperbanyak ilmu, tetapi juga memiliki rasa takut yang sangat besar pada murka Allah dan mengharapkan rida-Nya. Beliau terus merayu Allah dengan ibadah dalam kualitas dan kuantitas yang terbaik yang bisa diikhtiarkan.
Akan halnya dalam sisi pribadi beliau yang berperan sebagai istri dan ibu, kisahnya tidak kalah mengundang kekaguman. Suami beliau, Ishaq al-Mu’tamin bin Ja’far Shadiq sering kali mengungkapkan kebahagiaannya berumahtangga dengan Sayyidah, menceritakan sifat-sifat baik yang dimilikinya dan wajah berseri ceria, serta kata-kata halusnya. Begitu pun putra-putri beliau Qasim dan Ummi Kultsum yang selalu dididik dengan baik, diajarkan ibadah dan zikir. Beliau termasuk di antara muslimah terkemuka dalam me-riayah keluarga dan apik dalam mengatur rumahnya.
أفضل النساء في رعاية زوجها وبيتها وأسرتها، ومن أحسنهنَّ إتقاناً لفنِّ إدارة المنزل
Gemar Muhasabah
Sayyidah Nafisah adalah seorang muslimah yang teguh dalam menegakkan al-haq. Masyarakat sangat mengenal karakter kuat beliau yang tidak kenal takut untuk melawan kezaliman. Sejarawan Ahmad bin Yusuf al-Qirmani dalam bukunya menceritakan bahwa masyarakat menyampaikan keluhannya tentang kezaliman penguasa Mesir saat itu.
Sayyidah Nafisah menyiapkan surat sebagai wujud muhasabah lil hukkam yang diperintahkan syariat dan menunggu di jalan yang dilalui oleh rombongan penguasa. Saat sang gubernur melihat Sayyidah, ia berhenti dan turun dari kudanya. Sayyidah langsung memberikan surat yang ditulisnya sebagai nasihat sekaligus peringatan agar menghentikan sikap represifnya.
“Anda telah diangkat menjadi penguasa atas rakyat, tetapi anda malah memenjarakan mereka. Anda diberi kemampuan mengatur, tetapi malah membuat mereka menderita. Anda diberi tunjangan harta yang cukup, tetapi malah membuat masyarakat melarat. Ketahuilah bahwa panah yang dilepaskan di waktu sahur (doa pada dini hari) akan tepat di jantung sasarannya. Apalagi dilepaskan dari hati orang yang terzalimi dan orang miskin yang melarat. Mustahil terjadi yang dizalimi mati dan yang zalim bisa tetap hidup. Lakukan apa pun yang Anda mau (jika sudah tiada takut pada Allah). Sedangkan kami, orang-orang yang dizalimi akan mengadukan semuanya kepada Allah,” tulisnya. Muhasabah tersebut ditutup dengan akhir ayat,
“Dan orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.” (QS Asy-Syu’ara [26]: 227).
Peringatan Sayyidah Nafisah yang lugas mengentak jiwa sang penguasa, sampai membuatnya memperbaiki kebijakan dan sikapnya terhadap rakyat.
Menghadap Rabb
Sayyidah Nafisah sakit pada bulan Rajab hingga beliau wafat pada Ramadan 208 H. Menghadap Rabb dalam keadaan terbaik yang dimohonkan kepada Allah sepanjang 30 tahun terakhir, yakni ketika beliau berpuasa. Masyarakat Mesir berduka karena kehilangan permata ilmu, role model rabbatul bait, dan tentu saja teladan dalam bersikap tegas menegakkan al-haq.
Begitulah sosok seorang Sayyidah Nafisah, seorang muslimah permata ilmu, ahli takarub yang juga sangat dicintai keluarganya. Semua kisah beliau meneladankan sebuah pola hidup yang khas. Makin tinggi ilmu seorang muslim, makin hati-hati pula ia dalam bersikap dan mengambil tindakan. Makin banyak ilmu akan berimplikasi pada sikap untuk makin sungguh-sungguh dalam menjalankan semua peran yang diamanahkan syariat.
Tidak ada dikotomi antara peran domestik dan publik. Makin banyak ilmu seorang muslimah, mestinya makin tidak rela melewatkan kesempatan untuk bertakarub kepada Allah dan memohon untuk disegerakan pertolongan-Nya. Makin banyak ilmu juga makin membangkitkan kesadaran bahwa syariat yang dipraktikkan oleh negara dan penguasa adalah sasaran prioritas untuk amar makruf nahi munkar.
Jika mengajarkan ilmu di dalam majelis-majelis ilmu wajib dilakukan agar semua muslim melek syariat, bukankah muhasabah kepada penguasa dengan menyampaikan nasihat dan kritik tajam berdasarkan batasan Al-Qur’an lebih wajib? Ini karena para penguasa inilah yang menjadi kunci berlangsung atau terhalangnya pelaksanaan syariat. Wallahualam bissawab. [MNews/NA]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
