Penulis: Dedeh Wahidah Achmad
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Imam Ibnu Majah adalah salah seorang ulama hadis yang wafat pada bulan Ramadan. Karya monumentalnya masih terkenal sampai sekarang, dijadikan rujukan dalam kajian-kajian hadis. Nama Ibnu Majah menurut Imam ar-Rafi’i diambil dari nama ayah beliau, Yazid. Beliau lahir pada 209 H dan wafat pada 273 H dengan nama asli Muhammad bin Yazid bin Majah al-Qazwaini. Disematkan al-Qazwaini karena beliau lahir di daerah Qazwin yang dahulu masuk ke dalam wilayah bernama Khurasan, yang kini disebut dengan nama Iran.
Kitab karyanya dikenal dengan Sunan Ibnu Majah, dimasukan ke dalam salah satu kitab rujukan yang enam, bersama dengan kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, dan Sunan an-Nasa’i. Imam Muhammad bin Thahir bin Ali bin Ahmad al-Qisrani al-Maqdisi yang yang pertama kali memasukkan kitab karangan Ibnu Majah ke dalam Kutub as-Sittah pada 507 H.
Ibnu Majah dikenal sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu dan wawasan. Ini yang menjadi salah satu alasan dimasukkannya Sunan Ibnu Majah ke dalam kitab induk hadis. Hadis-hadis yang beliau kumpulkan menjadi tambahan rujukan dan makin memperkaya serta melengkapi kitab-kitab induk hadis sebelumnya.
Hasil penelaahan yang dilakukan oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqi membuktikan bahwa terdapat 4.341 hadis dalam Kutub as-Sittah tersebut. Sebanyak 3.002 hadis sama dengan yang di-takhrij Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i. Sementara itu, 1.339 hadis sisanya merupakan tambahan dari Ibnu Majah
Semangat Menjaga Sumber Ajaran Islam dari Pemalsuan
Salah satu sumber ajaran Islam adalah Sunnah Rasulullah ﷺ yang sampai kepada kita lewat hadis-hadis yang dikabarkan oleh para periwayat. Kemurnian ajaran Islam tidak bisa dipisahkan dari keaslian sumbernya, di antaranya adalah keaslian hadis yang terbebas dari pemalsuan. Oleh karenanya diperlukan upaya yang bisa memisahkan antara hadis-hadis yang benar-benar berasal dari Nabi ﷺ dengan perkataan dusta yang mengatasnamakan sabda beliau ﷺ. Padahal, ancaman bagi para pembuat hadis palsu jelas disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
“Siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka disediakan kursi baginya di neraka.” (HR Muttafaq’ Alaih).
Urgensi memastikan kemurnian hadis makin terasa ketika fitnah berkembang di tengah-tengah umat. Pada masa itu bermunculan kelompok pembuat hadis untuk mendukung pendapatnya. Lalu dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ. Hakikatnya yang mereka sampaikan bukanlah perkara baru yang termasuk bidah. Masalahnya banyak umat yang menganggapnya sebagai hadis Rasulullah ﷺ.
Penelaahan hadis sudah dianjurkan oleh para sahabat, walaupun pada saat itu belum dirasakan kebutuhannya. Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab beliau, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah jilid I, para sahabat menganjurkan untuk melakukan penelitian yang mendetail tentang orang-orang yang mengambil hadis dari Nabi. Telah diriwayatkan dari Abu Sakinah-Mujasyi’ bin Fathanah, berkata, “Aku telah mendengar dari Ali bin Abi Thalib ra., sedangkan beliau berada dalam masjid di Kufah, lalu berkata, ‘Perhatikanlah oleh kalian orang-orang yang mengambil ilmu ini (hadis) karena ia merupakan ilmu yang menyangkut agama.’”
Beberapa Keistimewaan Ibnu Majah
1. Senantiasa haus terhadap ilmu. Keluasan ilmu Ibnu Majah bukan semata karena ayahnya seorang ulama. Sejak usia belia Ibnu Majah sudah mencintai ilmu dan gemar mengembara. Bukan semata rihlah atau hanya untuk mengetahui berbagai budaya, semangat mulia yang mendorongnya adalah demi terus memperoleh ilmu agama dengan belajar hadis langsung dari para ahlinya.
Beliau tidak mencukupkan penguasaannya pada satu bidang saja. Tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, beliau pun semangat untuk melanjutkan kajiannya pada Al-Hafizh ‘Ali bin Muhammad ath-Thanafisi, seorang ahli hadis yang diakui oleh Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala’ sebagai tokoh akhir abad ke-2 hijriah dan diberi gelar Al-Imam Al-Hafizh Al-Mutqin.
2. Semangat menjaga ilmu dan mendakwahkannya. Rihlah Ibnu Majah berbuah keberkahan ilmu, beliau banyak memperoleh riwayat hadis di berbagai daerah dari guru yang tidak sedikit, seperti Abu Bakar bin Abu Syaebah, Ibrahim al-Mundzir, dan teman-temannya Imam Malik dan Laits. Keberkahan ilmunya terus mengalir hingga kepada para ulama lain yang mengambil periwayatan hadis darinya, seperti Ibnu Sibaweh, Muhammad bin Isa ash-Shaffar, Ishaq bin Muhammad, Ali bin Ibrahim bin Salmah al-Qathan, Ahmad bin Ibrahim, kakeknya Ibnu Katsir, dan Sulaiman bin Yazid.
Ulama dahulu sungguh berbeda dengan para pencari ilmu dan penikmat pengetahuan zaman sekarang, ketika ilmu hanya sebatas pengetahuan yang digadang-gadang bisa menghasilkan uang. Mereka tidak ingin kebaikan berhenti pada dirinya saja, atau hanya menyentuh murid-muridnya saja. Para ulama mempunyai harapan mulia agar ilmu dan manfaatnya terus mengalir dan berkembang pada segenap umat dari berbagai masa dan tidak sirna manakala ulama yang mencetak karya sudah wafat. Dengan dorongan menjaga ilmu agar nyalanya senantiasa ada, para ulama salaf menuliskan pendapat, gagasan, dan wawasan keilmuannya dalam bentuk kitab. Demikian pula Ibnu Majah, seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah demi tersampaikannya risalah Islam, dan menebar kebaikan lewat karya yang tertuang dalam tulisan yang tidak ternilai harganya.
Banyak ulama yang mengakui dan memberikan penghargaan pada kelebihan yang dimiliki Ibnu Majah. Misalnya, seperti yang disampaikan oleh Abu Zahw dalam Al-Hadits wa al-Muhadditsun Au ‘Inayah al-Ummah al-Islamiyyah bi as-Sunnah an-Nabawiyyah, bahwa Ibnu Katsir berkata, “Ibnu Majah adalah pengarang kitab Sunan yang terkenal. Hal tersebut menunjukan ketelatenan, keilmuan, penguasaan, pembacaan, dan kesetiaannya terhadap Sunah, baik yang terkait dengan masalah usul atau furuk.”
Yasir Syimali dalam Manahij al-Muhadditsin menyampaikan bahwa Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Tahir al-Baghdadi dan pengikutnya beralih dari kitab Muwatha Imam Malik menjadi Sunan Ibnu Majah ke dalam Kutub as-Sittah. Dengan alasan jumlah hadis di dalamnya lebih banyak, juga hadis marfu’ di dalam Muwatha lebih sedikit dari Sunan Ibnu Majah, tentu di luar itu juga untuk memperkaya khazanah hadis tepercaya dalam dunia keislaman.”
3. Keunggulan Ibnu Majah lainnya adalah sistematika penyusunan kitab yang memudahkan pembacanya memahami ajaran Islam, terutama masalah fikih, dan menemukan hujah dari sumber dalil, yakni yang berasal dari hadis Rasulullah ﷺ. Beliau memisahkan topik bahasan menjadi beberapa bab. Setiap bagian menyajikan satu tema pembahasan. Pengelompokan dan sistematika yang dibuat oleh Ibnu Majah menjadi inspirasi dan membangkitkan semangat para pengkaji hadis untuk mendalami dan menelaah hadis dengan lebih saksama.
4. Keistimewaan selanjutnya, terkait kehati-hatian beliau dalam memilih hadis. Ibnu Majah sangat selektif dalam memilih perawi yang layak diterima hadisnya. Kesinambungan sanad sangat mendapatkan perhatian. Beliau akan memastikan adanya hubungan langsung antara perawi satu dengan lainnya dan tidak boleh ada sanad yang terputus . Ibnu Majah juga akan memastikan tidak adanya kontradiksi antara hadis yang diambilnya dengan pemahaman pokok-pokok yang ada dalam Al-Qur’an.
5. Mempelajari ilmu dari sumber yang tepercaya. Ilmu adalah dasar amal, tanpa ilmu amal bisa sesat dan menyesatkan. Di sinilah letak tanggung jawab ilmu, apalagi jika ilmu itu disampaikan dan berikutnya diikuti oleh banyak orang, membutuhkan kehati-hatian dalam menuangkannya. Dan Ibnu Majah sudah membuktikan tanggung jawab yang luar biasa. Beliau tidak sembarangan mengambil ilmu, tetapi mencarinya dari pusat-pusat ilmu, sekalipun harus menempuh jarak yang jauh dan meninggalkan kampung halaman. Ada jejak pencarian ilmu oleh Ibnu Majah di Baghdad, Kufah, Damaskus, Mesir, Makkah, dan Madinah. Di kota-kota tersebut beliau menimba ilmu dari para tabiin dan pakar hadis terpercaya.
Sosok Teladan
Membaca kisah Ibnu Majah selayaknya bukan semata untuk mengenang keistimewaannya. Juga tidak sekadar nostalgia terhadap kegemilangan peradaban Islam yang telah melahirkan tokoh dan ulama hebat. Namun, sangat penting untuk menjadikannya salah satu sosok teladan dalam memperlakukan ilmu agar menuai keberkahan untuk dirinya, juga bagi umat manusia.
Sebagaimana Ibnu Majah, hendaknya generasi muslim tidak hanya semangat mencari ilmu, tapi juga semangat untuk mengamalkannya, berdedikasi untuk mengajarkannya, juga semangat untuk memperjuangkannya hingga ajaran Islam diakui kebenarannya dalam tataran konsep, serta terbukti keunggulannya dalam menyejahterakan umat manusia lewat penerapannya secara kafah. Wallahualam. [MNews/RR]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
