Penulis: Yusriana S.I.Kom.
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Ekspansi besar kaum muslim yang tercatat dalam sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa momen-momen besar tersebut terjadi pada bulan suci Ramadan. Salah satu pencapaian militer paling fenomenal adalah penaklukan wilayah Sindh yang kini menjadi bagian dari negara Pakistan. Adalah Muhammad bin Al-Qasim, seorang panglima muda yang sangat jenius, telah memimpin pasukan muslim memasuki daratan India untuk pertama kalinya. Peristiwa besar ini berlangsung pada awal abad kedelapan masehi saat para prajurit sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Penaklukan Sindh yang dipimpin Muhammad bin Al-Qasim telah membuka gerbang dakwah Islam yang sangat luas bagi penduduk di anak benua India.
Latar Belakang Penaklukan Sindh
Yang menjadi pemicu penaklukan saat itu adalah tindakan provokatif para bajak laut di pelabuhan Debal yang merampok kapal-kapal muslim. Bajak laut tersebut menawan wanita dan anak-anak muslim yang sedang melakukan perjalanan dari Sri Lanka menuju Irak. Raja Dahir, penguasa wilayah Sindh saat itu, menolak untuk memberikan perlindungan atau menghukum para bajak laut tersebut. Penolakan ini memicu kemarahan Hajjaj bin Yusuf, gubernur wilayah timur Kekhalifahan Bani Umayyah, yang segera menyusun rencana serangan.
Hajjaj bin Yusuf memilih menantunya yang masih berusia 17 tahun untuk memimpin pasukan elite menuju tanah Sindh. Muhammad bin Al-Qasim menerima mandat tersebut dengan penuh tanggung jawab dan keberanian yang luar biasa tinggi. Ia membawa enam ribu pasukan kavaleri terpilih beserta peralatan pengepungan yang sangat canggih pada masa itu. Kedisiplinan pasukan muslim menjadi modal utama dalam menghadapi medan yang sangat asing dan penuh tantangan.
Strategi Perang dalam Keadaan Berpuasa
Pasukan muslim harus menempuh perjalanan jauh melalui gurun Makran yang sangat gersang di bawah terik matahari menyengat. Meskipun sedang menjalankan ibadah puasa, Muhammad bin Al-Qasim tetap mampu menjaga semangat tempur pasukannya. Para prajurit memahami bahwa perjuangan membela martabat wanita muslimah merupakan bagian dari bentuk jihad di jalan Allah. Strategi Muhammad bin Al-Qasim sangat terukur dengan mengutamakan penguasaan titik-titik logistik penting di sepanjang jalur penyerangan mereka.
Pertempuran dahsyat pecah di dekat sungai Indus ketika pasukan muslim berhadapan langsung dengan tentara gajah Raja Dahir. Muhammad bin Al-Qasim menggunakan taktik api untuk menakut-nakuti gajah perang musuh agar mereka berbalik menyerang pasukannya sendiri.
Para prajurit muslim bertempur dengan penuh keberanian di bawah terik matahari Sindh, sedangkan lisan mereka tidak berhenti berzikir. Kekuatan iman mampu mengalahkan rasa haus dan lapar yang mereka rasakan selama menjalankan misi suci penaklukan tersebut. Kematian Raja Dahir dalam pertempuran tersebut menandai berakhirnya dominasi kekuasaan lama dan dimulainya era baru bagi wilayah Sindh.
Indahnya Islam bagi Penduduk Sindh
Kawasan Sindh ketika ditaklukkan kaum muslim merupakan Kerajaan Hindustan yang berdiri sendiri. Sindh dipimpin seorang raja Bernama Dahir putra Juj. Agama yang dianut di sana saat itu adalah brahmanisme, Jainisme, dan Buddha. Para penganut Brahmanisme berkeyakinan bahwa Tuhan mereka (Brahma) menciptakan makhluk dalam 4 kelompok, yaitu:
– Kelompok pertama, ia menciptakan mereka dari mulutnya, mereka adalah kasta brahmana.
– Kelompok kedua, ia menciptakan mereka dari tangannya, mereka adalah kasta ksatria.
– Kelompok ketiga, ia menciptakan mereka dari pahanya, mereka adalah kasta waisya.
– Kelompok keempat, ia menciptakan mereka dari kakinya, mereka adalah kasta sudra atau kasta yang terbuang.
Dari pembagian kasta tersebut, kasta brahmana dianggap sebagai kasta yang paling mulia dan paling suci, sedangkan kasta di bawahnya lebih rendah, dan yang paling rendah adalah sudra. Tentunya pembagian kasta ini adalah suatu kezaliman dan jauh dari kemanusiaan.
Oleh karena itu, orang-orang Buddha menyambut kedatangan orang-orang muslim di Sindh dan menganggap orang muslim sebagai penyelamat mereka dari kezaliman dan perbudakan. Mereka bergabung dengan kaum muslim dan berbondong-bondong masuk agama Islam sehingga jumlahnya lebih besar daripada agama brahmanisme.
Sejak kaum muslim menaklukan Sindh, mulailah terjadi persingguangan antara kaum muslim dan penduduk Sindh. Berita-berita tentang orang Arab pun masuk ke penduduk. Bahkan, banyak penduduk Sindh yang lari dari penindasan para penganut brahmanisme ke negeri Persia dan berperang bersama mereka.
Menyebarnya Islam di Sindh
Setelah penaklukan, Muhammad Al-Qasim datang ke Sindh dan mengajak para amir, pejabat, menteri, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara umum untuk masuk Islam. Banyak dari mereka memenuhi ajakan ini, terlebih orang-orang Buddha. Setelah kawasan Siustan ditaklukkan, datanglah suatu kaum dari penduduk tersebut kepada Muhammad bin Al-Qasim dan mereka semua masuk Islam.
Kisah keislaman mereka menunjukkan keagungan Islam dan pengaruhnya yang kuat terhadap hati manusia. Ini karena Islam memang agama yang sesuai fitrah dan memuaskan akal manusia. Prof. Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Latif dalam kitab Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah menyebutkan sebuah riwayat bahwa penguasa Sindh mengirim mata-mata ke pangkalan militer kaum muslim untuk mengetahui berita kaum muslim. Saat mata-mata ini tiba di sana, datanglah waktu salat. Salah seorang pasukan mengumandangkan azan dengan suara yang khusyuk, merdu, dan membekas di hati. Kemudian kaum muslim berbaris rapi di belakang panglima mereka. Ketika mata-mata Sindh melihat pemandangan itu, rasa takut merasuki hatinya dan ia sangat terpengaruh. Lalu ia lembali ke kaumnya, memberitakan apa yang ia alami, dan menjelaskan bagaimana perasaannya saat melihat pemandangan itu.
Seusai berdiskui dengan kaumnya, mereka memutuskan untuk mengirimkan utusan kepada Muhammad bin Al-Qasim. Perundingan mereka dengannya berakhir dengan masuk Islamnya mereka secara keseluruhan dan bergabungnya mereka dengan kaum muslim.
Beberapa tahun setelah penaklukan Sindh, datanglah kekhalifahan Umar bin Abdul Azis. Beliau berdakwah kepada raja-raja Sindh untuk memeluk Islam, sedangkan mereka tetap menguasai negerinya serta mereka mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana kaum muslim yang lain. Mereka memenuhi ajakannya. Sebagian mereka masuk Islam dan memakai nama-nama Arab setelah mereka mendengar sikap adil, takwa, dan perilaku baik dari Umar bin Abdul Azis.
Setelah Islam masuk ke Sindh pada akhir abad pertama hijriah itulah, kawasan ini menjadi bagian dari Daulah Islam dan menjaga keislamannya hingga saat ini. Sindh senantiasa mengambil peran positif dalam menciptakan sejarah Islam dan peradaban Islam.
Dari sini kita bisa melihat bahwa penaklukan kaum muslim telah memberikan kepada negeri-negeri taklukan, apa yang terbaik dari yang mereka miliki berupa akidah, risalah, akhlak, perangai yang baik, manajemen, dan disiplin. Kaum muslim menghadapi negeri yang ditaklukkannya dengan akal yang sempurna, perasaan yang lembut, hati yang penuh kasih sayang, dan tangan yang cerdas serta lincah.
Kaum muslim mengubah mereka dari fase kehidupan Badui menjadi fase kehidupan yang berperadaban. Negeri yang ditaklukkan berubah dari ketakutan menjadi aman, dari kacau menjadi tenteram, kota mencapai puncak keemasannya, serta padang pasir yang liar dan tanah yang tandus menjadi kota yang ramai dan tanah yang subur. Muncullah ilmu-ilmu yang belum ada sebelumnya. Seni dan berbagai corak peradaban yang tidak dikenal pada zaman sebelumnya mewujud. Seolah-olah negeri yang ditaklukkan ini menjadi negeri yang baru dilahirkan dengan memakai baju baru pada zaman Islam.
Referensi:
Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Prof. Dr. Abdussyafi Muhammad Abdul Latif
Penaklukan Sindh, Surau.co.
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
