Penulis: Ummu Nashir N.S.
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Peristiwa Fathu Makkah atau penaklukan Kota Suci Makkah merupakan salah satu kemenangan terbesar umat Islam dalam sejarah. Kemenangan ini bukan hanya menjadi momen penting dalam kehidupan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat, tetapi juga diabadikan oleh Allah dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Keberhasilan Rasulullah dan para sahabat melumpuhkan kafir Quraisy makin mengukuhkan posisi Islam. Rasulullah menghancurkan segala bentuk kemusyrikan yang ada di Makkah sehingga hanya Islam yang eksis.
Setelah berhasil memasuki kota Makkah, Rasulullah saw. masuk ke Masjidilharam, kemudian melakukan tawaf. Beliau menghadap Ka‘bah, sedangkan di sekelilingnya ada kaum muhajirin dan ansar. Beliau membawa tongkat di tangannya. Ketika itu Ka‘bah dikelilingi oleh 360 berhala, Rasulullah mulai menghancurkan berhala-berhala itu dengan tongkatnya sambil membaca firman Allah,
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh yang batil itu pasti lenyap.” (QS Al-Isra’: 81).
Saat memasuki Ka’bah, beliau melihat banyak gambar di dalamnya. Di antaranya adalah gambar Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sedang mengundi nasib dengan anak panah. Melihat itu, Rasulullah bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka! Demi Allah, sungguh mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah mengundi nasib dengan anak panah sama sekali.” Beliau juga melihat ada gambar seekor merpati dari kayu di dalam Ka‘bah. Beliau menghancurkannya dengan tangannya dan memerintahkan agar semua gambar dihapus.
Dari Usamah bin Zayd ra., ia berkata, “Aku masuk bersama Rasulullah ke dalam Ka‘bah. Beliau melihat ada gambar, lalu beliau meminta diambilkan air. Beliau pun mengusap gambar itu seraya bersabda, “Semoga Allah membinasakan suatu kaum yang membuat gambar sesuatu yang mereka tidak mampu menciptakannya.” Kemudian beliau menyuruh para sahabat untuk menghancurkan dan menguburkan berhala terbesar, yaitu Hubal. Nabi Muhammad juga mengumumkan agar setiap orang di seluruh kota Makkah menghancurkan berhala di rumah mereka.
Rasulullah tinggal di Makkah selama 19 hari. Ibnu Abbas ra. berkata, “Selama itu beliau meneguhkan akidah tauhid, meruntuhkan simbol-simbol syirik dan jahiliah, mengajarkan agama kepada manusia, serta mengutus para sahabat ke berbagai penjuru untuk menghapus sisa-sisa berhala. Pada masa itu pula Rasulullah mengutus sebagian sahabat untuk menyeru kepada Islam dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Makkah.
Kaum muslim pun berbondong-bondong menghancurkan patung-patung tersebut. Ketika itu ‘Ikrimah bin Abī Jahl ra.—yang saat itu belum masuk Islam—berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar ada satu rumah di antara rumah-rumah Quraisy kecuali berhalanya dihancurkan.”
Setelah itu Hindun binti ‘Utbah ra. (istri Abu Sufyān) masuk Islam dan berkata, “Dahulu kami menyembah berhala-berhala itu. Ketika tamimah (jimat) itu rusak, kami merasa tertipu.” Berhala-berhala itu pun dihancurkan oleh kaum muslim.
Dalam kitab sirah Ar-Rahiqul Makhtum karya Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury disebutkan, setelah peristiwa Fathu Makkah, tepatnya lima hari sebelum berakhirnya bulan Ramadan tahun 8 H, setelah suasana menjadi tenang, Rasulullah saw. mengutus beberapa sahabat, di antaranya Khalid bin Walid ra., untuk mendatangi berhala Uzza dan menghancurkannya. Berhala ini milik orang-orang Quraisy dan semua Bani Kinanah dan termasuk berhala yang paling besar. Penjaganya adalah Bani Syaiban.
Mendengar berita kedatangan Khalid, As-Sulami sang penjaga kuil langsung menggantungkan pedangnya di patung berhala tersebut. Ia menyuruh berhala Uzza untuk menjaga dirinya sendiri dan membunuh Khalid. Jika tidak bisa melakukannya, ia akan kembali dengan dosa atau menjadi nasrani. Khalid bersama 30 orang penunggang kuda tiba di sana, lalu menghancurkan kuil berikut berhalanya dan merobohkannya, kemudian ia kembali ke Makkah.
Sesampainya di Makkah, ia menemui Rasulullah saw. Beliau bertanya, “Apakah engkau melihat sesuatu?” “Tidak,” jawab Khalid. “Kalau begitu engkau belum benar-benar merobohkannya, kembalilah ke sana dan robohkanlah!” perintah Nabi.
Dengan hati yang bergejolak Khalid pergi lagi sambil menghunus pedangnya. Di sana ada seorang wanita berkulit hitam yang keluar di hadapannya dalam keadaan telanjang dan menguraikan rambutnya. Orang-orang berteriak karena ulah wanita itu. Khalid menebaskan pedangnya ke tubuh wanita itu dan memotongnya menjadi dua bagian.
Setelah itu ia kembali dan memberitahukan hal yang terjadi kepada Rasulullah saw., kemudian beliau bersabda, “Ya itu Uzza, dahulu aku sempat putus asa kalau-kalau Uzza akan disembah selama-lamanya di negeri kalian ini.” (Sirah Nabawiah, Ibnu Hisyam jilid 2 halaman 406).
Berhala besar lainnya adalah Al-Lata. Ia adalah sebuah berhala besar yang berada di ath-Thaif. Ia berwujud patung yang memiliki relief dan dibangunkan rumah untuknya dengan ditutupi kelambu agar mirip dengan Ka’bah. Di sekeliling Al-Lata terdapat teras dan dijaga oleh juru kunci. Untuk menghancurkan berhala ini, Rasulullah mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu’bah.
Pada bulan yang sama Rasulullah saw. juga mengutus Amr bin Al-Ash untuk menghancurkan Suwa’, berhala milik Hudzail di Ruhath, sejauh tiga mil dari Makkah. Setiba di sana, penjaganya bertanya, “Apa maumu?” “Aku diperintah Rasulullah untuk menghancurkan Suwa’,” jawab Amr. “Engkau tidak akan sanggup,” kata penjaga. “Mengapa?” tanya Amr. Penjaga menjawab, “Karena engkau akan dihalangi.” Amr berkata, “Hingga detik ini engkau berada dalam kebatilan. Celakalah engkau, apakah berhala ini bisa mendengar dan melihat?” Kemudian ia mendekat ke arah Suwa’ dan menghancurkannya.
Rasulullah saw. juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menghancurkan tempat penyimpanan barang dan mereka tidak mendapatkan apa-apa di sana. Kemudian Amr bertanya kepada penjaganya, “Bagaimana menurut pendapatmu?” Lalu penjaganya berkata, “Kalau begitu aku menyatakan pasrah kepada Allah.”
Selanjutnya Rasulullah saw. mengutus Sa’ad bin Zaid al-Asyhaly bersama 20 orang sahabat untuk mendatangi Manat yang terletak di Al-Musyallal di wilayah Qadid. Manat adalah berhala yang dahulunya milik Aus, Khazraj, Ghassan, dan lain-lain. Setibanya di sana, penjaganya bertanya, “Apa maumu?” Sa’ad menjawab dengan tegas, “Menghancurkan Manat” Lalu penjaga itu berkata dengan pasrah, “Terserah apa maumu.”
Sa’ad mendekati Manat, tiba-tiba muncul seorang wanita berkulit hitam tidak berpakaian sambail menguraikan rambutnya, mendoakan kecelakaan sambil menepuk-nepuk dadanya. Penjaga berkata kepada wanita itu, “Manat sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadapmu.” Sa’ad menghampiri wanita itu dan membunuhnya, lalu menghancurkan Manat.
Demikianlah proses penghancuran berhala yang dilakukan Rasulullah saw. di Makkah setelah kota ini ditaklukkan. Penghancuran berhala ini menandai berakhirnya era kemusyrikan di pusat ibadah umat Islam. Ka’bah dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai tempat ibadah kepada Allah Taala. Tindakan Rasulullah menghancurkan berhala ini juga mengajarkan bahwa segala sesuatu yang menjadi perantara atau sarana kemusyrikan dan dosa harus dimusnahkan dan tidak boleh dibiarkan sampai kapan pun dan dalam kondisi apa pun. Wallahualam bissawab. [MNews/RR]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
