Wujudkan Cita Umat

NE

News Elementor

What's Hot

[Kisah Ramadan] Ramadan dan Kemenangan Gemilang Perang Badar al-Qubra

Table of Content

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, KISAH RAMADAN — Beberapa hari memasuki bulan Ramadan tahun 2 H, Rasulullah saw. keluar menuju medan perang bersama sekitar 330 orang sahabatnya. Beliau saw. mengangkat Amru bin Umi Maktum untuk menjadi imam salat dan mengangkat Abu Lubabah untuk mengurusi pemerintahan di Madinah.

Nabi saw. menyerahkan al-liwa’ (bendera) kepada Mush’ab bin Umair. Sedangkan di hadapan beliau terdapat dua ar-rayah (panji) yang keduanya berwarna hitam. Salah satu ar-rayah dipegang Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, yang satunya lagi dipegang oleh salah seorang dari kaum ansar.

Ketika itu, unta yang tersedia untuk para sahabat sebanyak 70 ekor sehingga mereka bergantian menungganginya.

Rasulullah saw. juga menetapkan pasukan pengintai yang selalu berada di sisinya. Ketika mendekati Badar, Rasululllah saw. mengutus Basbas bin Amru dan Adi bin Abi az-Zaghba’ ke Badar guna mengintai tempat tersebut sebelum Nabi saw. dan pasukannya sampai ke sana.

Kesetiaan dan Pengorbanan di Jalan Allah

Rasulullah saw. ingin mengetahui sejauh mana kesiapan para sahabatnya, baik dari muhajirin maupun ansar untuk berkorban. Kaum ansar, yang telah membaiat Rasulullah saw. untuk senantiasa menjaga dan melindungi beliau, melaksanakan janji itu dengan penuh kesungguhan, sebagaimana mereka menjaga dan melindungi anak-anak serta istri mereka.

Rasulullah saw. mengumpulkan orang-orang dan memberitahukan tentang keluarnya orang-orang kafir Quraisy untuk menyerang mereka. Nabi saw. meminta pendapat mereka tentang cara menghadapi kaum kafir Quraisy. Miqdad bin Amru tampil berbicara, membangkitkan semangat kaum muslim yang diliputi kegelisahan menghadapi dahsyatnya kekuatan Quraisy.

Miqdad berkata, “Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah dan kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah’, sedangkan kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu’. Demi Zat yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan.

Kata-kata Miqdad mengalir tajam laksana anak panah, menembus hati orang-orang mukmin. Wajah Rasulullah saw. pun berseri-seri sambil mendoakan kebaikan untuknya. Semangat Miqdad segera menyebar, membangkitkan gairah pasukan muslim sehingga ucapannya memberi dampak positif bagi seluruh barisan.
Sa’ad bin Muadz, pemuka kaum ansar berkata, “Ya Rasulullah, sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan menyaksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah benar. Kami juga sudah bersumpah setia kepadamu. Karena itu, majulah wahai utusan Allah, kami akan bersamamu. Demi Zat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke lautan, lalu engkau mengarungi lautan itu, tentu kami juga akan mengarunginya. Tidak seorang pun akan berpaling. Kami akan bersamamu berperang melawan musuh. Kami adalah orang-orang yang gagah berani dalam peperangan, tidak gentar menghadapi musuh. Allah akan memperlihatkan kepadamu kiprah kami dalam peperangan yang akan berkenan di hatimu. Karena itu, maju terus, kami akan bersamamu. Berkah Allah akan bersama kita.
Rasulullah saw. sangat senang dan bersabda, “Berangkatlah dan bergembiralah!” Sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku salah satu dari dua kelompok, Demi Allah, sepertinya aku sekarang sedang melihat pergulatan suatu kaum! ”.

Mencari Berita tentang Musuh

Sebelum memasuki peperangan, Rasulullah saw. terlebih dahulu melakukan pengintaian terhadap musuh untuk mengetahui jumlah pasukan, perlengkapan, logistik, serta lokasi mereka berkumpul.

Rasulullah saw. berhenti di dekatBadar dan bertemu seorang Arab yang telah lanjut usia. Beliau saw. menanyakan tentang kafir Quraisy, Muhammad dan sahabatnya, serta berita apa saja yang telah sampai kepadanya.

Orang itu berkata, “Aku mendengar kabar bahwa Muhammad saw. dan para sahabatnya berangkat hari ini. Jika benar, mereka pasti telah tiba di sini. Aku juga mendengar kabar bahwa kaum Quraisy keluar hari ini. Jika benar, mereka pun telah sampai di tempat ini.” Setelah menyampaikan berita, ia bertanya, “Kalian dari mana?” Rasulullah saw. menjawab, “Kami dari mata air.”

Strategi Meraih Kemenangan

Allah Taala berfirman, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar menolong mereka itu.” (TQS Al-Hajj: 39).

(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Rabb kami hanyalah Allah.’ Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (TQS Al-Hajj: 40).

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ishaq bin Yusuf al-Azraq, ia menambahkan, “Ibnu Abbas berkata, itulah ayat pertama yang turun berkenaan dengan perang.” (HR At-Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Dalam Perang Badar, Rasulullah saw. memimpin langsung pasukan muslim yang berjumlah sekitar 330 orang, dengan perlengkapan 8 pedang, 6 baju perang, 70 unta, dan 2 kuda. Sementara itu, kaum Quraisy menghadirkan 1.000 prajurit, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 kuda.

Perang Badar berawal dari pencegatan terhadap kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa harta kaum Quraisy. Abu Sufyan segera meminta bantuan ke Makkah, dan para pemuka Quraisy pun memutuskan memerangi Nabi Muhammad saw. dan para sahabat.

Pasukan Abu Jahal sudah berada sekitar satu hari perjalanan dari Badar. Beberapa pejuang muslim, termasuk Ali bin Abi Thalib, berhasil menangkap dua pembawa air pasukan Abu Jahal di sumur Badar. Dari interogasi, mereka mengaku sebagai bagian dari pasukan Abu Jahal, bukan kafilah dagang.

Atas saran seorang sahabat, Nabi saw. menggeser posisi kaum muslim ke sumur terdekat musuh dan memerintahkan penimbunan sumur-sumur lain. Taktik ini memaksa Quraisy bergerak ke arah yang diinginkan kaum muslim demi mendapatkan sumber air terakhir. Nabi saw. pun menempatkan pasukan sehingga Quraisy menghadap ke timur dengan sinar matahari langsung ke mata mereka.

Pasukan Muslim Meraih Kemenangan

Pada 17 Ramadan tahun 2 H, kedua kubu bertemu di lembah Badar. Perang dimulai dengan pertarungan kecil yang melibatkan tiga wakil dari kedua kubu. Kaum muslim menurunkan Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin al-Harits. Sementara itu, kaum Quraisy menerjunkan Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Pertarungan berakhir dengan tewasnya ketiga jago Quraisy.

Ubaidah mendapat luka serius dan harus diusung ke luar medan perang. Meski Quraisy Makkah unggul jumlah dan senjata, tetapi mereka kalah. Mereka bertempur dalam gaya Arab kuno yang sembrono dan hanya mengandalkan keberanian.

Pasukan muslim disiplin dalam satu komando dan terlatih. Pada awal perang, pasukan Nabi saw. menghindari pertarungan jarak dekat dan lebih memilih menyerang menggunakan panah.

Pertarungan jarak dekat hanya terjadi apabila musuh mendekat. Rasulullah saw. membagi pasukan muslim menjadi tiga kelompok, yakni sayap kanan, kiri, dan tengah. Pasukan tengah terdiri dari kaum muhajirin dan ansar yang siap membela Nabi saw. hingga titik darah penghabisan.

Setelah menyadari kekalahannya, pasukan Abu Jahal panik dan melarikan diri. Mereka meninggalkan sekitar 50 pemimpinnya termasuk Abu Jahal dan Umayah yang mati di medan pertempuran.

Yakin akan Pertolongan Allah

Bagi umat Islam, Perang Badar adalah peristiwa besar karena menjadi pertempuran pertama melawan musuh, yang berlangsung pada bulan mulia Ramadan. Meski berpuasa, pasukan muslim tetap teguh berperang menghadapi musuh Allah Taala. Keyakinan, kesabaran, kepemimpinan Rasulullah saw., serta strategi dan kesungguhan dalam berjuang pada pasukan muslim inilah yang melayakkan mereka mendapat pertolongan Allah Taala.

Dengan pertolongan Allah Taala, kaum muslim meraih kemenangan meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding pasukan Quraisy. Allah menurunkan bantuan besar sehingga mereka menang atas musuh-musuh-Nya. Kemenangan ini memberi dampak luar biasa, yaitu meningkatkan keimanan dan kepercayaan diri umat Islam, sekaligus menjadikan mereka kekuatan baru yang diperhitungkan. Otoritas Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin Negara Islam Madinah pun makin kuat.

Kemenangan Perang Badar membuktikan bahwa dalam menghadapi musuh harus dengan berbagai persiapan baik ruhiyah, strategi, dan fisik. Ketaatan pasukan kepada Rasulullah saw. juga memengaruhi tercapainya kemenangan ini. Wallahualam. [MNews/CJ]

Sumber:

Qol‘ahji, Muh. Rawwas. 2001. Sirah Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw. Jakarta: Al Azhar Press.

Al-Buthy, Muhammad Sa‘id Ramadhan. 2002. Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah terhadap Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw. Jakarta: Robbani Press.


source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.

amaniyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan terkait

Trending News

Editor's Picks

Fatimah binti as-Samarqandi, Muslimah Ahli Ilmu Bermahar Kitab Al-Badai

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan...

HUKUM SHOLAT GHAIB

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya :Assalamu’alaikum ustadz. Ibu istri meninggal dunia dan sudah dimakamkan hari Kamis pekan yang lalu di Bengkulu . Mau tanya Ustadz, ini teman-teman istri mau mengadakan sholat ghaib di Jogja apakah diperbolehkan? Atau kalau tidak boleh apakah ada syariat ibadah lainnya, atau cukup kita mendoakan saja ? Syukron...

Green Talk, Dirty Work (Wajah Ganda Politik Iklim Barat)

Negara-negara Barat, yang dimotori oleh AS dan Uni Eropa, menyumbang mayoritas emisi gas rumah kaca historis. Amerika Serikat adalah kontributor emisi kumulatif terbesar sepanjang sejarah (sekitar 400 miliar ton sejak 1751; menyumbang 25% dari emisi historis). Jumlah ini sekitar dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Tiongkok yang mencapai 12,7%. Uni Eropa (EU-28) berada di...

Wanita dan Bencana

Monalisa (26) tak patah arang saat banjir mengepung rumahnya di Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) pada Selasa (25/11/2025). Meski seorang diri dan dalam kondisi sedang mengandung, ia menghadapi derasnya air. Saat tiba di lokasi pengungsian, perjuangan Monalisa tidaklah berakhir. Dia harus segera beradaptasi dengan hiruk-pikuk pengungsian yang ramai, berbaur dan acapkali...

Kemarahan Ishmatuddin Khatun karena Kehilangan Wirid

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang dikenal dalam sejarah adalah Sayidah Ishmatuddin Khatun, istri Al-Malik ash-Shalih Nuruddin Mahmud Zanki. Ia dan ayahnya merupakan raja termasyhur yang memikul beban berat di pundaknya dalam melawan serangan Pasukan Salib yang tersebar di wilayah kaum muslim. Wanita salihah tersebut berdiri di samping suaminya...

Wujudkkan Cita Umat

Artikel Pilihan

©2025- All Right Reserved.