Penulis: Rindyanti Septiana
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Pada tahun kesepuluh kenabian (sekitar 619 Masehi), istri Nabi saw., Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thalib wafat. Ibnu Sa’ad berkata di dalam Thabaqat-nya, selisih waktu antara wafatnya Khadijah dan Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.
Sebelumnya, Ibunda Khadijah ra. adalah yang selalu menghibur dan membesarkan hati Nabi saw. saat menghadapi masalah-masalah berat dalam dakwah. Sementara itu, Abu Thalib telah memberikan dukungan kepada Nabi saw. dalam menghadapi kaumnya.
Ibnu Hisyam berkata, “Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah saw., sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah saw. sehingga pernah Rasulullah pulang ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Namun, Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong Bapakmu.’” (HR Ibnu Ishaq, Tarikhuth Thabari, 2/344).
Para ahli sirah nabawiah seperti Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakpuri dalam Ar-Raheeq al-Makhtum mencatat bahwa tahun ke-10 kenabian adalah fase paling kritis bagi dakwah Islam di Makkah.
Puncak Kesedihan
Amul huzni artinya tahun kesedihan atau tahun duka. Kesedihan Nabi saw. makin memuncak ketika beliau mencoba mencari suaka dakwah ke kota Thaif. Beliau berharap bani Tsaqif mau menerima Islam sebagai ganti Makkah yang makin memusuhi beliau. Namun, apa yang terjadi?
Bukan sambutan hangat yang diterima, melainkan penghinaan yang lebih kejam. Para pemimpin Thaif mengusir Nabi saw. dan menyuruh anak-anak kecil serta budak untuk melempari Nabi dengan batu sepanjang jalan. Darah segar mengalir dari kepala hingga membasahi terompah (sandal) Nabi saw.
Zaid bin Haritsah yang berusaha melindungi Nabi pun terluka parah. Nabi kemudian berlindung di sebuah kebun anggur dan di sanalah beliau memanjatkan doa yang sangat menyayat hati, yang dikenal sebagai doa pengaduan Nabi saw., “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Zat Yang Paling Penyayang, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Rabb-ku. Kepada siapa Engkau hendak menyerahkan aku? Kepada orang jauh yang membenciku, atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atasku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli.” (HR Thabrani).
Doa ini menunjukkan level kepasrahan total seorang hamba pada Rabbnya. Penduduk Makkah menolak dakwah Nabi, penduduk Thaif pun mengusir, istri beliau wafat, dan paman yang melindungi dakwah Nabi telah tiada. Pada titik nadir kesedihan itulah, Allah Swt. menjawab doa kekasih-Nya. Ketika penduduk bumi menolak dan menghinakan Nabi saw., Allah mengundang penduduk langit untuk menyambut dan memuliakannya.
Allah ingin menunjukkan, “Wahai Muhammad, jika bumi ini sempit bagimu, naiklah ke langit-Ku yang luas.” Terjadilah peristiwa Isra (perjalanan malam dari Makkah ke Palestina) dan Mikraj (naik ke Sidratulmuntaha). Allah Swt. berfirman, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekililingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (TQS Al-Isra: 1).
Dalam kitab Fiqh as-Sirah, Syekh Al-Buthi menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah bentuk tasliyah Rabbaniyah, yakni hiburan ketuhanan.
Beberapa Ibrah
Sudah menjadi ketentuan Ilahi bahwa Nabi saw. harus kehilangan orang-orang yang secara lahiriah melindungi dan mendampinginya, yaitu Abu Thalib dan Khadijah ra. Hal ini untuk menampakkan dua hakikat penting.
Pertama, sesungguhnya perlindungan, pertolongan, dan kemenangan itu hanya datang dari Allah Swt. Allah Swt telah berjanji untuk melindungi Rasul-Nya dari kaum musyrik dan musuh-musuhnya. Oleh karena itu, dengan atau tanpa pembelaan manusia, Nabi saw. tetap akan dijaga dan dilindungi oleh Allah Swt. Dakwah Nabi pun akhirnya mencapai kemenangan.
Saat ini para pejuang Islam yang sedang berupaya mengembalikan kehidupan Islam di muka bumi akan meraih kemenangan. Allah Swt. akan melindungi dan menolong mereka seperti halnya yang terjadi pada Nabi saw. karena para pejuang Islam mengikuti aktivitas yang dilakukan Nabi saw.
Kedua, ‘ishmah (perlindungan dan penjagaan) di sini tidak berarti terhindar dari gangguan, penyiksaan, atau penindasan. Namun, artinya adalah ‘ishmah (perlindungan) yang dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya, “Allah melindungi dari (gangguan) manusia.” (TQS Al–Maidah:67).
Sudah menjadi ketetapan Ilahi bahwa para Nabi dan Rasul-Nya harus merasakan aneka ragam gangguan dan penyiksaan. Firman-Nya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (kamu).” (TQS Al-Hijr: 94—95).
Dengan demikian, para pejuang Islam pada setiap zaman akan menganggap ringan segala bentuk cobaan berat yang ditemui di jalan dakwah. Nabi saw. berhasil dalam dakwahnya dengan melewati penderitaan atau perjuangan berat. Sesungguhnya kaum muslim sesudahnya juga bisa melewati hal yang sama di jalan dakwah. Hal ini tidak akan melemahkan semangat perjuangan mereka. Saat semua pintu bumi tertutup, pintu langit selalu terbuka. [MNews/RR]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
