Penulis: Rindyanti Septiana
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Proses turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkannya dari Aisyah ra., ia berkata, “Wahyu yang diterima oleh Rasulullah saw. dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi, beliau melihat cahaya terang laksana fajar yang menyingsing pada pagi hari. Kemudian beliau digemarkan oleh Allah untuk melakukan ‘uzlah. Beliau melakukan ‘uzlah di Gua Hira selama beberapa malam. Kemudian pulang kepada keluarganya untuk mengambil bekal.” Demikianlah berulang kali hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam Gua Hira.
Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata, “Bacalah.” Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Rasulullah saw. menceritakan lebih lanjut, “’Malaikat itu lalu mendekatiku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan.’ Ia berkata lagi, ‘Bacalah.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca.’ Ia mendekatiku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan.’ Ia berkata lagi, ‘Bacalah.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca.’ Untuk ketiga kalinya ia mendekatiku dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi, ‘Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan… Menciptakan manusia dari segumpal darah…’ dan seterusnya.” (Dr. Said Ramadan Al-Buthi, Fiqhus Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiyah, hlm.55).
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas merupakan kisah awal wahyu turun kepada Rasulullah saw. yang bertepatan dengan malam Senin tanggal 17 Ramadan yang saat ini diperingati oleh umat Islam sebagai hari turunnya Al-Qur’an atau Nuzululqur’an, tepat pada hari pertama kenabian Rasulullah saw.
Syekh Muhammad Sayyid ath-Thanthawi dalam karya tafsirnya mengatakan bahwa firman Allah Swt. yang agung ini diturunkan kepada Rasulullah saw. melalui beberapa tahap. Tahapan yang pertama, yaitu Allah turunkan dari lauhulmahfuz ke langit dunia secara menyeluruh. Tahapan berikutnya Allah menyuruh Malaikat Jibril as. untuk menurunkannya kepada Rasulullah saw. dengan cara berangsur-angsur sesuai kebutuhan umat Islam saat itu, baik turun sebagai hukum, respons terhadap suatu kejadian, sebagai perintah atau larangan, maupun sebagai hikayat dari umat-umat sebelumnya. (Syekh At-Thanthawi, Tafsir Al-Wasith lil Qur’anil Azhim, [Mesir, Daru Nahdlah: 1997], Juz I, hlm. 454).
Menurut sebagian ulama, Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan bertepatan dengan malam Lailatulqadar, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadr, Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada 1.000 bulan.” (QS Al-Qadr [97]: 1—3).
Beberapa Ibrah
Hadis mengenai permulaan turunnya wahyu di atas merupakan asas yang menentukan semua hakikat agama dengan segala keyakinan dan syariatnya. Hakikat wahyu ini merupakan satu-satunya faktor pembeda antara manusia yang berpikir dan membuat syariat dengan akalnya sendiri, dan manusia yang hanya menyampaikan syariat dari Rabb-nya tanpa mengubah, mengurangi, atau menambah.
Para musuh Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap fenomena wahyu dalam kehidupan Rasulullah saw. Berbagai argumentasi mereka kerahkan untuk menolak kebenaran wahyu, dan membiaskannya dengan ilham (inspirasi) seperti saat ini atas nama moderasi beragama. Karena mereka menyadari bahwa masalah wahyu merupakan sumber keyakinan dan keimanan kaum muslim kepada apa yang dibawa oleh Muhammad saw. dari Allah Taala. Untuk merealisasikan tujuan ini, para musuh Islam berusaha menafsirkan fenomena wahyu dengan berbagai penafsiran palsu.
Syekh Syihabuddin al-Husaini al-Alusi dalam salah satu karya tafsirnya menjelaskan bahwa diturunkannya Al-Qur’an yang mulia, melalui malaikat Jibril yang mulia, diberikan kepada Nabi saw. yang mulia, serta untuk menghormati umat yang mulia. Dalam kitabnya disebutkan, “Al-Qur’an yang memiliki kemuliaan diturunkan pada malam tersebut, melalui malaikat yang memiliki kemuliaan, untuk diberikan kepada rasul yang memiliki kemuliaan, karena umat yang memiliki kemuliaan.” (Al-Alusi, Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Azhim was Sab’il Matsani, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 1415 H], juz XVI, hlm. 60).
Dengan demikian, bulan Ramadan ini kita sebut dengan bulan Al-Qur’an, karena bulan ini adalah bulan diturunkannya ayat pertama Al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Tidak hanya Al-Qur’an, kitab suci para nabi sebelumnya juga diturunkan pada bulan mulia ini. Oleh karenanya, membaca, mengamalkan, dan mendakwahkan serta menerapkan isi Al-Qur’an merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim, agar umat Islam bisa meraih kemuliaan.
Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan, “Demi Allah, jika seseorang tidak merenungkan Al-Qur’an dengan menghafalkan huruf-hurufnya lalu ia melalaikan hukum-hukumnya sehingga ada yang mengatakan, ‘Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya.’ Padahal, kenyatannya ia tidak memiliki akhlak yang baik dan tidak memiliki amal.” (Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, 2: 418—419). [MNews/NA]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
