Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Suatu hari, Abu Hazim menemui Umar bin Abdul Aziz yang saat itu sudah menjadi khalifah. Melihat Abu Hazim, Umar bin Abdul Aziz memanggilnya. Abu Hazim pun mendekat, lalu bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz, “Apakah engkau Amirulmukminin?” Ia menjawab, “Iya, benar.”
Abu Hazim bertanya lagi kepada Khalifah Umar, “Bukankah engkau dulu gubernur kami di Madinah? Engkau menaiki kendaraan yang megah, berpakaian indah, wajahmu bersinar cerah, makan makanan yang nikmat, tinggal di istana yang gemerlap, dan dikelilingi para hamba sahaya yang siap melayanimu. Apa yang membuat penampilanmu menjadi sangat berubah seperti ini setelah menjadi khalifah?”
Mendengar pertanyaan itu, khalifah menangis, lalu berkata, “Wahai Abu Hazim, bagaimana menurutmu kondisi tubuhku jika engkau melihatnya setelah tiga hari dimasukkan ke dalam kubur? Saat kedua mataku sudah meleleh ke pipiku, lidahku sudah kering, perutku sudah pecah, dan belatung sudah memakan tubuhku. Tentu engkau akan makin tidak mengenali diriku. Ulangilah hadis yang engkau bacakan kepadaku saat di Madinah.”
Kemudian Abu Hazim membacakan hadis Nabi ﷺ, “Di hadapan kalian di akhirat nanti akan ada rintangan yang tinggi dan sulit, yang hanya bisa dilewati oleh orang yang kurus tubuhnya dan lemah.” (HR Abu Hurairah).
Mendengar itu, khalifah menangis cukup lama. Setelah itu, ia berkata kepada Abu Hazim, “Apakah tidak sepatutnya jika aku menguruskan tubuhku untuk melewati rintangan tersebut? Dengan harapan, aku bisa melewatinya pada saat itu. Aku merasa dengan adanya cobaan menjadi pemimpin umat ini, sulit bagiku untuk selamat.”
Setelah itu, sang khalifah berbaring tertidur dan orang-orang masih berbicara. Abu Hazim berkata kepada mereka, “Rendahkanlah suara kalian! Bukankah kalian tahu saat ini sudah larut malam?” Setelah itu, Umar bin Abdul Aziz terlihat mengeluarkan keringat yang sangat banyak. Ia menangis hingga sesenggukannya terdengar keras, lalu ia tersenyum. Melihat hal itu, Abu Hazim bertanya kepada Khalifah Umar, “Wahai Amirulmukminin, saya melihat keanehan pada dirimu. Engkau menangis keras, tetapi kemudian tersenyum. Ada apakah?”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz kembali bertanya, “Apakah engkau melihatnya?” Abu Hazim menjawab, “Iya, saya melihatnya, demikian juga orang-orang di sekitarmu.”
Khalifah lalu menceritakan mimpinya itu kepada Abu Hazim, “Hai, Abu Hazim. Saat aku meletakkan kepala di tempat tidur ini, aku tertidur dan bermimpi seakan kiamat sudah terjadi. Manusia berkumpul. Ada yang memberitahukan, jumlahnya 120 baris. Dari jumlah tersebut, umat Nabi Muhammad menjadi mayoritas dalam 80 barisan. Sambil memfokuskan perhatian, mereka menunggu suara yang dipanggil untuk dihisab. Tiba-tiba dipanggilah, ‘Mana Abdullah bin Utsman Abu Bakar Ash-Shiddiq?’ Orang tersebut menjawab, lalu malaikat membawanya ke hadapan Rabb-nya. Ia lalu dihisab dan dinyatakan selamat. Kemudian, ia dibawa ke arah kanan. Setelah itu, dipanggilah Umar dan malaikat membawanya ke hadapan Rabb-nya. Ia dihisab, lalu dinyatakan selamat dan dibawa ke arah kanan. Setelah itu, dipanggillah Utsman. Ia menyambut panggilan tersebut, lalu dihisab secara ringan. Setelah itu, Utsman diperintahkan masuk surga.
Berikutnya, dipanggilah Ali bin Abi Thalib. Ia juga dihisab, lalu diperintahkan masuk surga. Ketika hampir datang waktuku dipanggil, aku merasa seperti pingsan. Berikutnya dipanggillah orang-orang yang aku tidak tahu kondisi mereka. Selanjutnya, mereka memanggil, ‘Mana Umar bin Abdul Aziz?’ Keringatku pun mengucur. Aku ditanya tentang segala hal yang besar maupun yang paling kecil, juga masalah hukum yang telah aku tetapkan, dan aku diampuni. Kemudian aku melewati sosok yang terhampar di jalan. Aku pun bertanya kepada malaikat, ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Jika engkau sapa dan mengajaknya bicara, niscaya ia akan menjawabnya.’ Aku pun menggerakkan badannya dengan kakiku. Orang itu mengangkat kepalanya, lalu membuka matanya. Aku bertanya, ‘Siapakah engkau?’ Ia malah balik menanyakan, ‘Engkau sendiri siapa?’ Aku menjawab, ‘Umar bin Abdul Aziz.’
Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana keputusan Allah terhadapmu?’ Aku menjawab, ‘Allah telah memberikan anugerah-Nya dan keselamatan untukku sebagaimana Dia memberikannya kepada Khulafaurrasyidin. Orang itu berkata, ‘Selamat untukmu atas anugerah yang Allah putuskan untuk mereka.’ Aku bertanya lagi kepadanya, ‘Siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku adalah Al-Hajjaj. Aku menghadap Allah dan aku dapati Dia Maha Pedih siksa-Nya. Dia membunuhku berkali-kali sejumlah orang yang pernah aku bunuh. Saat ini, aku berada di pengadilan Allah menunggu sebagaimana halnya orang-orang beriman untuk menantikan keputusan Allah Swt., apakah akan diperintahkan ke surga atau neraka.’”
Setelah mendengar penuturan mimpi Umar bin Abdul Aziz itu, Abu Hazim bersumpah tidak akan mengatakan terhadap orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah sebagai penghuni neraka. (Ibnu al-Jauzi, 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah)
Hikmah
Setiap manusia pasti akan dihisab untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidup di dunia. Mimpi yang dialami Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuatnya sangat berhati-hati sebagai seorang pemimpin umat dan kepala negara. Imam Ghazali berkata, “Kekuasaan itu seperti racun berbungkus madu. Tampak manis di luar, tetapi bisa menghancurkan hati.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah memberi keteladanan sikap yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin, yakni menanggalkan segala kemewahan demi mengurus rakyatnya. Seorang pemimpin seharusnya selalu merasa diawasi oleh Allah Taala. Ia haruslah sosok yang paling takut kepada Allah dan tidak berbuat zalim kepada rakyat atas kebijakan yang ia tetapkan.
Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang memimpin 10, akan datang pada Hari Kiamat dengan belenggu di lehernya. Keadilannya akan melepas belenggu itu. Kezalimannya yang justru mempereratnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Pemimpin yang adil dan takut kepada Allah Swt. sangat langka dalam sistem sekuler kapitalisme hari ini. Pemimpin adil dan amanah hanya bisa terwujud dalam sistem Islam kafah. Sebabnya, Islam tidak akan pernah menyatu dengan kezaliman. Islam memegang teguh prinsip-prinsip keadilan, terutama dalam aspek kepemimpinan. “Satu hari di bawah pemimpin yang adil, lebih baik daripada ibadah sendirian selama 60 tahun.” (HR Baihaqi). [MNews/CJ-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
