Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Raja’ bin Haiwah memiliki kisah yang menerangkan jalannya dalam menjalin hubungan dengan para khalifah dan menjelaskan kepentingannya kepada mereka.
Raja’ berkisah tentang dirinya, “Aku pernah berdiri bersama Sulaiman bin Abdul Malik di depan banyak orang. Tiba-tiba aku melihat seseorang menuju ke arah kami di tengah barisan. Orang itu tampan rupanya dan terpancar wibawanya. Orang itu terus membelah barisan hingga aku tidak meragukan lagi bahwa ia hendak menemui khalifah. Akhirnya, ia berada di depanku dan berdiri di sampingku.
Kemudian, ia mengucapkan salam kepadaku dan berkata, ‘Wahai Raja’, sesungguhnya Anda telah diuji dengan orang ini (maksudnya khalifah). Sesungguhnya di dekatnya ada banyak kebaikan dan kejahatan. Maka, jadikanlah kedekatanmu sebagai kebaikanmu dan kebaikan orang-orang. Ketahuilah wahai Raja’ bahwa barang siapa mendapat kedudukan dari penguasa, lalu ia menyampaikan kebutuhan orang lemah yang tidak bisa menyampaikannya, maka orang itu nanti bertemu Allah Swt. pada Hari Kiamat dalam keadaan teguh saat hisab. Ingatlah wahai Raja’ bahwa amal yang paling dicintai Allah Swt. adalah memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim.’
Ketika aku sedang menghayati perkataan orang itu dan aku ingin mendapat lebih banyak darinya, tiba-tiba khalifah memanggilku seraya berkata, ‘Di mana Raja’ bin Haiwah?’ Aku pun berjalan mendekatinya dan berkata, ‘Saya, wahai Amirulmukminin!’ Khalifah lalu bertanya tentang sesuatu kepadaku. Setelah menjawabnya, aku menoleh ke orang itu tadi. Akan tetapi, aku tidak menemukannya. Kemudian, aku melihat ke seluruh tempat dan aku tetap tidak menemukannya.’” (Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Jejak Perjuangan dan Keteladanan para Tabiin, hlm.102)
Hikmah
Jabatan khalifah bukanlah jabatan bergengsi yang saling diperebutkan untuk meraih kekuasaan. Beban dan tanggung jawab menjadi pemimpin, apalagi kepala negara, sangatlah berat. Jabatan sebagai khalifah atau pemimpin negara adalah ujian sekaligus ladang pahala. Jika tidak sanggup menanggung ujian, ia akan terjerumus pada kezaliman. Namun, jika ia mampu mengemban amanah, ladang pahala sedang menantinya. Orang yang menasihati Raja’ bin Haiwah lantaran dekat dengan penguasa memahami bahwa kekuasaan bisa menjerumuskan siapa saja, termasuk ulama yang dekat dengan penguasa.
Kekuasaan memang dapat menjadi godaan yang besar bagi banyak orang. Ketika seseorang berkuasa, mereka dapat merasa tidak terkalahkan dan dapat melakukan apa saja tanpa konsekuensi. Hal ini tidak akan terjadi ketika ia meletakkan iman dan rasa takutnya kepada Allah Swt. sebagai fondasi dasar dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin. Ketika iman runtuh, ia mudah terjebak pada nikmat dunia yang sementara. Jabatan dan kekuasaan memang sementara, tetapi tanggung jawabnya tidak terkira. Allah Taala menegaskan, “… Barang siapa berkhianat, maka pada Hari Kiamat, ia akan datang membawa hasil pengkhianatannya. …” (QS Ali Imran: 161).
Oleh karenanya, jadikanlah sifat adil dan amanah sebagai bekal dalam mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin umat. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
