Wujudkan Cita Umat

NE

News Elementor

What's Hot

[Kisah Ramadan] Becermin pada Perjuangan Rasulullah ﷺ Saat dan Pasca-Ramadan

Table of Content

Penulis: Ustazah Rahmah

Muslimah News, KISAH RAMADAN — Saat Bulan Suci Ramadan tiba, yang langsung terbayang di benak kita adalah Ramadan bulan ketaatan, bulan ibadah. Kaum muslim sibuk dengan berbagai ibadah mahdhah, antara lain tadarus (membaca Al-Qur’an), berzikir, bersedekah, menyediakan takjil untuk berbuka puasa, iktikaf, salat Tarawih, dan ibadah lainnya. Seakan-akan hanya itulah yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yaitu sebatas memenuhi Ramadan dengan berbagai aktivitas ibadah.

Memang benar bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabat memenuhi Ramadan dengan ibadah, bahkan rata-rata mereka mengkhatamkan Al-Qur’an satu hari satu kali. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ juga mengisi Ramadan dengan perjuangan, termasuk berperang.

Perang Saat Ramadan

Pada Ramadan 8 H/630 M, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi Perang Badar. Perang Badar merupakan perang besar, membutuhkan pengorbanan yang luar biasa besar, baik fisik maupun psikis. Ini karena Perang Badar dilakukan saat saum Ramadan, dalam kondisi lapar dan dahaga. Di samping itu, Perang Badar merupakan perang yang tidak direncanakan. Jumlah sahabat yang ikut tidak sebanding dengan jumlah pasukan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat.

Untuk memenangkan Perang Badar, strategi yang Rasulullah ﷺ lakukan adalah menanamkan pada diri sahabat bahwa perang ini pasti dimenangkan karena mereka adalah kaum muslim yang memiliki sumber kekuatan yang luar biasa, yaitu quwwatur-ruhiyyah, sebuah kekuatan yang mahadahsyat, keyakinan akan pertolongan Allah Taala. Kekuatan seperti ini tidaklah dimiliki orang-orang kafir. Penanaman keyakinan akan menang ini kemudian dibarengi dengan memaksimalkan semua strategi, daya juang yang tinggi, dan doa.

Perhatikan janji Allah Swt. yang akan memberi kemenangan bagi kaum muslim atas musuh-musuhnya, sekalipun jumlah musuhnya lebih banyak. Dalam QS Al-Baqarah ayat 249 Allah Swt. berfirman,

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةًۢ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Allah Swt. juga berjanji memenangkan (menolong) kaum muslim yang menolong agama-Nya. Dalam QS Muhammad ayat 7 Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Perang Badar pun berakhir dengan kemenangan gemilang. Lalu masih saat Ramadan 8 H/630 M, Rasulullah ﷺ dan para sahabat segera menyusun strategi Fathu Makkah (penaklukan Kota Makkah) dengan damai. Ibnu Hisyam menuliskan dalam kitab sirahnya bahwa Rasulullah ﷺ berangkat ke Kota Makkah pada 10 Ramadan bersama 10.000 kaum muslim. Dalam suasana Ramadan itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menempuh jalan sekitar 500 kilometer.

Beliau ﷺ berupaya agar perang ini tidak menimbulkan perlawanan berarti dari pihak Quraisy. Oleh sebab itu, beliau ﷺ berusaha keras menyembunyikan informasi penaklukan Kota Makkah ini agar tidak sampai ke pihak Quraisy. Tujuannya agar mereka tidak sempat menyiapkan pasukan besar dan meminta bantuan dari pihak lain, serta memobilisasi kekuatan yang tentu saja akan menimbulkan perang besar, sengit, benturan keras, dan jatuhnya banyak korban.

Selanjutnya, pada saat beliau dan pasukan kaum muslim sudah mendekati Kota Makkah, barulah beliau menunjukkan pasukan kaum muslim dengan jumlahnya yang sangat banyak, persiapan senjata yang lengkap, dan kekuatan yang dahsyat di depan mata Abu Sufyan—yang saat itu baru saja masuk Islam. Tujuannya agar Abu Sufyan segera mengabarkan kepada pihak kafir Quraisy mengenai besarnya pasukan kaum muslim, kegagahan mereka, dan kelengkapan senjatanya, sehingga orang-orang kafir Quraisy tidak mungkin mampu menghadapinya. Dari sini, Abu Sofyan diharapkan memengaruhi orang-orang kafir Quraisy agar mereka menyerah.

Dengan demikian, Fathu Makkah menjadi penaklukan yang damai, tidak terjadi peperangan besar dan berkecamuk, kecuali perang kecil di Khandamah dan dengan cepat mampu ditumpas oleh pasukan Khalid bin Walid.

Tidak berhenti sampai di situ, Rasulullah ﷺ tetap menggelorakan semangat perjuangan pasca-Ramadan, bahkan setelah Fathu Makkah, dilanjutkan ke Perang Hunain. Perang Hunain terjadi pada Syawal 8 H di Lembah Hunain, sebuah lembah yang menjadi penghubung Kota Makkah dan Thaif. Perang ini diikuti oleh 12.000 pasukan, terdiri dari 10.000 kaum muslim yang tinggal Madinah dan 2.000 dari Makkah. Sedangkan Perang Thaif terjadi pada Syawal  8 H setelah meletusnya Perang Hunain. Dalam perang ini, pasukan kaum muslim mengejar sisa-sisa pasukan Quraisy yang melarikan diri dari Perang Hunain dan bersembunyi di dalam benteng kota yang kokoh. Sejarah mencatat kemenangan gemilang ada di tangan kaum muslim.

Becermin pada Perjuangan Rasulullah ﷺ

Dengan becermin pada perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat, kita bisa menyaksikan bahwa Ramadan, Syawal, dan Zulkaidah adalah bulan perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang layak mendapatkan Janah Firdaus. Mereka berhasil dengan gemilang menorehkan tinta emas, mencapai kesuksesan besar dan kemenangan pada Perang Badar, Perang Hunain, Perang Thaif, dan Fathu Makkah dengan damai. Hal ini tentu tidak lepas dari hikmah ibadah Ramadan yang mereka raih, yaitu bertakwa.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Rasulullah ﷺ dan para sahabat meningkatkan diri sampai pada puncak ketakwaan, yaitu berjihad di jalan Allah. Inilah takwa yang sebenarnya, sebagaimana dalam firman-Nya QS Ali Imran ayat 102,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”        

Imam Zamaksari menafsirkan حَقَّ تُقَاتِهِ , yaitu benar-benar melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. (Imam Zamaksari, Tafsir al-Kassaf, Juz I, hlm. 306).

Ibnu Katsir menafsirkan: hendaklah taat dan janganlah bermaksiat. Sedangkan Imam Jalalain menafsirkan: Hendaklah taat, maka janganlah bermaksiat; hendaklah bersyukur, maka janganlah kufur; hendaklah ingat (kepada Allah), maka janganlah lupa. (Tafsir Jalalain, Juz I, hlm. 394).

Dengan demikian, Ramadan harus menjadi momen perubahan besar. Ramadan menjadikan pribadi-pribadi bertakwa, keluarga-keluarga bertakwa, hingga masyarakat dan negara yang bertakwa. Bertakwa berarti melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya di seluruh aspek kehidupan. Dengan kata lain, orang yang bertakwa harus meninggalkan maksiat, meninggalkan hukum buatan manusia, meninggalkan kapitalisme, materialisme, liberalisme, dan isme-isme lain secara total, dan bersegera menerapkan syariat Islam secara kafah.

Allah Swt. berjanji kepada orang-orang bertakwa bahwa mereka akan memperoleh kemenangan. Bertakwa mengharuskan kita senantiasa melangkahkan kaki sesuai arahan Al-Qur’an dan hanya dengan berpedoman pada Al-Qu’ran inilah menjadikan kita bertakwa dan memperoleh kemenangan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“إنَّ هَذَا الْقُرْآنَ هو حَبْلُ اللهِ الْمتِينُ، وهو النور المبين وهُوَ الشِّفَاءُ النَّافِعُ، عِصْمةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ، ونَجَاةٌ لِمَنِ اتَّبَعَهُ”

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang kokoh, dialah cahaya yang nyata, ia juga obat yang bermanfaat, pencegah dosa bagi siapa pun yang berpegang teguh kepadanya, dan kemenangan bagi siapa saja yang mengikutinya.” (HR Hakim).

Ramadan dan pasca-Ramadan adalah bulan perjuangan dan pengorbanan. Inilah yang kita lihat pada diri Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Setelah Perang Badar, tidak lantas istirahat pulang kembali ke Madinah, melainkan dilanjutkan dengan Fathu Makkah (penaklukan Kota Makkah) dan dilanjutkan dengan Perang Hunain, Perang Thaif, lalu umrah wadak.

Tiga bulan lamanya Rasulullah ﷺ dan para sahabat meninggalkan Kota Madinah. Rangkaian perjuangan baru selesai setelah Perang Hunain, Perang Thaif, dan umrah pada Zulkaidah sebelum kembali ke Madinah. Mereka berangkat dari Madinah pada 10 Ramadan. Mereka meninggalkan kampung halaman dan keluarganya. Mereka berpuasa sekaligus berjihad di jalan Allah, serta berhari raya di medan jihad. Saat Syawal, mereka berjihad dalam Perang Hunain dan melalui puluhan hari mengepung musuh dalam Perang Thaif. Mereka lalu kembali ke Madinah enam hari menjelang Zulkaidah berakhir.

Dengan demikian, saat kita becermin pada perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam meninggikan agama Allah, lalu Allah memberikan serangkaian kemenangan yang telah Dia janjikan, seharusnya ini menjadi motivasi kuat bagi kita untuk kian giat dan semangat dalam perjuangan meneruskan kehidupan Islam secara kafah.

Tampak pula bahwa dorongan perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak lahir dari semangat sesaat, melainkan dari keimanan yang kukuh dan keyakinan penuh akan janji Allah Taala. Lapar dan dahaga akibat perang saat berpuasa justru makin mempertebal ketundukan dan memperkuat keyakinan akan pertolongan-Nya.

Semangat inilah yang semestinya turut menggerakkan kaum muslim hari ini. Ramadan bukan waktu mempersempit makna ibadah pada ranah personal atau mahdhah saja, melainkan momentum melipatgandakan amal dalam seluruh aspek kehidupan.

Khatimah

Pasca-Ramadan nanti, kaum muslim harus makin semangat menyadarkan kesalahan-kesalahan solusi yang diterapkan—selain solusi Islam—karena semua itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Bahkan sebaliknya, masalah akan makin ruwet dan parah. Umat juga akan mengalami kehinaan dan kemunduran.

Imam Al-Qurtubi saat menafsirkan QS Al-Anbiya’ ayat 107 menjelaskan,

)وَما أَرْسَلْناكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ) قَالَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِجَمِيعِ النَّاسِ فَمَنْ آمَنَ بِهِ وَصَدَّقَ بِهِ سَعِدَ، وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ سَلِمَ مِمَّا لَحِقَ الْأُمَمَ مِنَ الْخَسْفِ وَالْغَرَقِ.     

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Sa’id bin Jubair berkata, dari Ibnu Abbas berkata, ‘Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, maka barang siapa beriman dan membenarkannya, ia akan memperoleh kebahagiaan; dan barang siapa tidak beriman kepadanya, maka ia akan menerima sebagaimana yang ditemui oleh umat (yang menolaknya), yaitu menemui kehinaan dan tenggelam (kemunduran).’” (Imam Al-Qurtubi, Tafsir Al-Qurtubi, Tafsir QS Al-Anbiya’ ayat 107).

Jika ingin segera keluar dari permasalahan yang menimpa, tidak ada jalan lain, kecuali menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Semoga dengan becermin pada perjuangan Rasulullah ﷺ saat dan pasca-Ramadan bisa menjadikan kita makin semangat berjuang menghadirkan Islam kafah sebagai solusi atas seluruh problematika kehidupan. Insyaallah umat akan segera memperoleh kemenangan, sebagaimana janji Allah Swt. bagi orang-orang yang membela dan menolong agama-Nya. [MNews/GZ]


source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.

amaniyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan terkait

Trending News

Editor's Picks

Menyatukan Dua Generasi Demi Satu Amanah Dakwah

Generasi Z (Gen Z) memasuki panggung sejarah dengan sebuah kesadaran baru. Mereka menanggung beban hidup yang ditimbulkan oleh ideologi sekuler-kapitalisme dalam sistem demokrasi. Kesenjangan ekonomi, pengangguran, kerusakan iklim, ketidakadilan sosial, serta krisis kesehatan mental menjadi realitas yang menekan kehidupan mereka. Pada periode Agustus–Desember 2025, muncul fenomena pergerakan Gen Z yang dikenal dengan istilah glocal movement,...

BOLEHKAH ZAKAT MAL DIPRODUKTIFKAN (DIJADIKAN MODAL USAHA)?

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya : Assalamu’alaikum ustadz. Tanya Ustadz. Kami pengurus masjid menerima zakat mal. Jika kami membagikan menjadikan zakat produktif, yaitu kita berikan untuk modal usaha atau kita berikan untuk membeli ternak dan sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, apakah hukumnya? Terima kasih Ustadz. (Sudiarno, Pulau Rupat, Bengkalis).   Jawab : Wa...

Fatimah binti as-Samarqandi, Muslimah Ahli Ilmu Bermahar Kitab Al-Badai

Penulis: Rif’ah Kholidah Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara wanita yang namanya terukir dalam lembaran sejarah berkilau serta dipenuhi dengan cahaya dan ilmu adalah Sayidah Fatimah binti as-Samarqandi. Ayahnya bernama Alauddin as-Samarqandi, pengarang kitab Tuhfatul Fuqaha. Fatimah as-Samarqandi adalah seorang wanita ahli fikih terkemuka. Ia mampu menghafal kitab Tuhfatul Fuqaha karya ayahnya. Banyak kalangan...

HUKUM SHOLAT GHAIB

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi   Tanya :Assalamu’alaikum ustadz. Ibu istri meninggal dunia dan sudah dimakamkan hari Kamis pekan yang lalu di Bengkulu . Mau tanya Ustadz, ini teman-teman istri mau mengadakan sholat ghaib di Jogja apakah diperbolehkan? Atau kalau tidak boleh apakah ada syariat ibadah lainnya, atau cukup kita mendoakan saja ? Syukron...

Wujudkkan Cita Umat

Artikel Pilihan

©2025- All Right Reserved.