Penulis: Wiwing Noeraini
Muslimah News, KISAH RAMADAN — Utusan dari Thaif, khususnya suku Tsaqif, datang saat Ramadan pada tahun ke-9 Hijriah setelah kepulangan Rasulullah ﷺ dari Tabuk. Ada kisah menarik di balik peristiwa ini, mengingat sebelumnya mereka berkali-kali menolak keras dakwah Rasulullah ﷺ.
Penolakan awal terjadi pada tahun ke-10 kenabian. Rasulullah ﷺ pernah berdakwah ke Thaif, tapi beliau diusir, dihina, dan dilempari batu hingga berdarah. Saat itu, beliau ditemani Zaid bin Haritsah. Saat beristirahat di bawah pohon anggur, Rasulullah ﷺ bertemu Addas, seorang budak Nasrani yang masuk Islam setelah melihat kemuliaan akhlak beliau dan mengetahui kenabian beliau. Meski disakiti, Rasulullah ﷺ mendoakan agar keturunan penduduk Thaif kelak mendapat hidayah, bukan mendoakan kehancuran.
Penolakan berikutnya adalah saat Perang Thaif—yang merupakan kelanjutan dari Perang Hunain. Di sana ada benteng milik Malik bin Auf. Beliau ﷺ memerintahkan untuk menghancurkan benteng tersebut. Pengepungan pun berlangsung cukup lama. Cukup banyak pasukan muslim yang syahid sehingga Rasulullah ﷺ bermaksud meninggalkan benteng. Namun, sebagian sahabat merasa keberatan. Mereka berkata, “Masa kita pergi begitu saja dan tidak menaklukkannya?” “Kalau begitu, serbulah mereka!” sabda Nabi ﷺ.
Namun, penyerbuan itu justru mengakibatkan banyak pasukan muslim terluka karena benteng musuh memang cukup kuat. Beliau ﷺ pun bersabda, “Insyaallah besok kita akan pergi.” Setelah pasukan beranjak pergi, beliau ﷺ bersabda lagi, “Ucapkanlah, kami pasrah, bertobat, menyembah, dan kepada Rabb kami memuji.” Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah bagi kemalangan Tsaqif.” Beliau ﷺ bersabda, “ Ya Allah, berilah petunjuk bagi penduduk Tsaqif dan limpahilah mereka.”
Sebab penolakan penduduk Thaif adalah peristiwa masuk Islamnya pemimpin mereka Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Ia membuntuti Rasulullah ﷺ sepulang dari Perang Thaif pada Zulhijah 8 H. Sebelum tiba di Madinah, ia menemui Nabi ﷺ dan masuk Islam, lalu ia kembali ke tengah kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam. Ia merasa yakin kaumnya bersedia masuk Islam karena sebelumnya ia adalah pemimpin yang disegani, ditaati, dan dicintai oleh kaumnya. Namun, ternyata kaumnya menolak. Mereka justru melancarkan serangan anak panah dari berbagai penjuru sehingga Urwah meninggal dunia.
Sepeninggal Urwah, mereka dicekam ketakutan. Setelah beberapa bulan mereka bermusyawarah dan menyadari bahwa bahwa mereka tidak akan sanggup menghadapi orang-orang Arab di sekitarnya yang telah masuk Islam. Mereka pun mengirim utusan pada bulan Ramadan 9 H sebanyak enam orang, salah satunya Utsman bin Abul Ash ats-Tsaqafi. Rasulullah ﷺ pun menyeru mereka masuk Islam.
Pemimpin utusan mengajukan permintaan agar menulis perjanjian yang isinya adalah sebagai berikut. “Mereka akan masuk Islam, tapi mereka minta diperkenankan berzina, minum khamar, melakukan riba, dibebaskan dari kewajiban salat, berhala mereka Latta dibiarkan, dan mereka tidak disuruh merobohkan patung-patung mereka.” Namun, tidak satu pun permintaan mereka yang dipenuhi Rasulullah ﷺ. Alhasil, tidak ada jalan lain, kecuali tunduk dan akhirnya mereka masuk Islam. Mereka pun mengajukan syarat agar Nabi ﷺ menunjuk orang lain untuk merobohkan Latta yang bukan orang-orang Tsaqif.
Para utusan ini kemudian kembali kepada kaumnya dan mereka menyembunyikan keislaman mereka. Para utusan ini menakut-nakuti kaumnya dengan pertempuran dan peperangan. Wajah mereka tampak gelisah dan sendu. Para utusan menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ meminta mereka agar masuk Islam, meninggalkan zina, tidak minum khamar, dan lain-lain. Jika tidak, beliau ﷺ akan menyerang mereka.
Namun, rupanya mereka masih dikuasai kebanggaan menurut pemikiran jahiliah. Selama dua atau tiga hari mereka bersiap-siap untuk berperang. Kemudian Allah Taala menyusupkan ketakutan ke dalam hati mereka dan mereka pun berkata kepada para utusan, “Temuilah dia dan berikan apa yang dia minta.” Barulah para utusan tersebut mengatakan yang sebenarnya terjadi dan perjanjian yang telah mereka sepakati. Akhirnya mereka semua masuk Islam. Rasulullah ﷺ pun mengutus beberapa orang untuk merobohkan berhala Latta
Kisah ini memberikan banyak ibrah, di antaranya adalah kesabaran luar biasa Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. Bisa saja Rasulullah ﷺ mendoakan kebinasaan bagi penduduk Thaif, tapi beliau ﷺ malah mendoakan agar Allah memberi petunjuk kepada kaum tersebut.
Demikian juga dengan dakwah yang kita lakukan, seharusnya dilakukan dengan kesabaran ekstra, sabar menyampaikan kebenaran, sabar mengulang-ulang untuk menyampaikan pemikiran Islam saat umat belum paham, dan terus mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah Taala.
Kisah ini juga memberikan gambaran bahwa aktivitas Rasulullah ﷺ selama Ramadan bukan hanya berupa aktivitas ibadah ritual, seperti saum, zikir, tadarus Al-Qur’an, dan salat malam, tetapi juga diisi dengan berbagai aktivitas dakwah, bahkan jihad. Ramadan adalah bulan dakwah dan perjuangan untuk menerapkan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, pada Ramadan ini, kita seharusnya makin semangat menyampaikan dakwah Islam di tengah umat, bahkan lebih gencar daripada bulan-bulan sebelumnya. Apalagi pada bulan ini pahala amal kita dilipatgandakan oleh Allah Taala.
Ibrah lainnya, Rasulullah ﷺ dalam berdakwah senantiasa tegas, kukuh, dan tidak berkompromi dengan kebatilan. Dakwah beliau ﷺ tidak mencampuradukkan antara yang hak (benar) dan batil (salah). Begitu pula saat ini, kita harus meneladan metode dakwah Rasulullah ﷺ tersebut karena beliau adalah suri teladan terbaik.
Allah Swt. berfirman di dalam ayat,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).
Kita harus terus menyeru umat untuk masuk Islam secara kafah (keseluruhan) serta menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya, tanpa kompromi. Juga tanpa nanti, tanpa tapi. Kita harus mengajak umat meninggalkan semua ide dan pemikiran kufur seperti kapitalisme, liberalisme, sekularisme, feminisme, moderasi beragama, demokrasi, dan sebagainya. Betapa banyak umat Islam yang masih mudah terkecoh sehingga menganggap pemikiran-pemikiran kufur tersebut selaras dengan Islam.
Demokrasi, misalnya, dianggap sesuai dengan Islam, padahal sejatinya bertentangan. Pasalnya, demokrasi menjadikan manusia sebagai pembuat hukum, sedangkan Islam menjadikan Allah sebagai satu-satunya pembuat hukum. Oleh karena itu, kita harus bersikap tegas dalam berdakwah. Kita harus menjelaskan kepada umat bahwa kita tidak boleh mengompromikan demokrasi dengan Islam karena Islam adalah al-haq, sedangkan demokrasi adalah al-bathil.
Demikian juga dengan pemikiran dan hukum kufur lainnya, kita harus membuangnya jauh-jauh. Kita ajak umat untuk mengambil dan mengamalkan ajaran Islam semata-mata. Hal itu akan terwujud secara sempurna saat sistem Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiah telah tegak dan syariat Islam diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahualam bissawab. [MNews/NA]
Referensi: Kitab Sirah Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.
source
Tulisan ini berasal dari website lain. Sumber tulisan kami sertakan di bawah artikel ini.
